10 Puisi Rusia Bagian Pertama

 Berikut ini adalah 10 Puisi Perang Karya sastrawan rusia masa perang dunia ke 2 , dalam bait bait puisi mereka menjelaskan sebuah kesedihan semasa perang , puisi tentang perjuangan, harga diri, sosial , semangat dan motivasi dan lain sebagainya , banyak sekali puisi karya sastrawan rusia , berikut 10 puisi bagian pertama yang baru saya kutib dari buku hasil terjemahan ke bahasa indonesia , selamat membaca

1. Gerhana matahari
Igor di tepi sungai Donetz-tiba-tiba melihat
Semacam gelita menyelubungi tentaranya;
Ia menengadah mencari benderang;
Tapi, ah! Mentari seakan kehilaangan bulan sabit,
Bertitik api yang menyala pada tiap tanduknya,
Dan diudara gelap bermunculan bintang-bintang;
semua yang melihat berkunang-kunang matanya.
“ Alamat buruk”, begitu kamit para perajurit.
Orang-orang tua lesu menekurkan kepalanya:
“Alamat bagi kita: ditawan atau mati”.
Tetapi raja Igor: kawan-kawan seperjuangan,
Penjara lebih sengsara dari pada mati,
Tapi siapa dapat mengatakan, alamat buruk ini
Meramalkan kalahnya kita atau kalahnya musuh?
Ayo, mari pacu kuda kita yang cepat,
Supaya akhirnya kelihatan sungai Don yang biru!”
Ia tidak peduli alamat mentari,
Demikian besar hasratnya ke sungai besar itu . . . .
By : penyair yang tak dikenal

2. Kepada penyair
Pantangan, penyair, mengharap sanjung ‘rang ramai.
Riuh tepuk mereka sebentar mati gemanya;
Lalu kau dengar putusan timbangan pak tolol
Dan ketawa khalayak yang bikin hati patah;
tapi andai kau teguh, tak guncang dan sederhana,
rajalah engkau dan nasib raja ikut sendiri.
Batin bebas didiri berseru padamu: teruskanlah !
Sempurnakan kuntum indah dari mimpi-mimpimu,
Tapi jangan harap-puji atas buah ciptamu.
Puji berakar dibatin; hakimnya engkau sendiri,
Dan ambil putusan terkeras terhadap diri sendiri.
Tapi, andai kau puas, biar itu kawanan menggonggong,
Peduli mereka meludah dinyala mimbarmu
Dan pada tarian asap menyal dari kuilmu
By: ALEKANDER SERGEJEWITSJ PUSJKIN

3. Elergi
Seperti akibat anggur memberat
Gairah hidup yang mati dari hari-hariku menggila;
Dan seperti anggur yang kian tua kian keras
Lebih berat masa silam itu pada kejatuhanku.
Jalanku suram-suram. Laut masa depan yang menggemuruh
Hanya memawa alamat bagiku: banting tulang dan duka lara…
Tetapi wahai teman, aku tidak inginkan mati!
Aku mau hidup, mimpi dan bertarung lagi!
Dirancah susah, takut dan sengsara.
Aku tahu, aku akan mengecap suka-ria.
Aku akan mabuk sekali lagi dipuncak dewata,
Digugah mencucurkan air mata oleh renungan punyaku sendiri,
Dan mungkin bila duka penghabisan mendekat datang,
Baru cinta dan senyum-pamitan menggilai menang.
By: ALEXANDER SERGEJEWITSJ PUSJKIN

4. Nabi
Jiwa rengsa karena dahaga rahmat
Kembara daku digurun tandus
Disamping jalan tiba-tiba terlihat
Muncul bidadari bersayap enam;
Mataku di sentuh jarinya mengelus
Terkejut laksana mata rajawali
Terbuka nyelang dititis ilham
Tatkala telingaku diraba jari tilus halus
Kudengar segala getaran di cakrawala
Para bidadari melintas di langit tinggi
Hingga serangga nan bergerak dasar samudra
Serta anggur yang lilit membelit kayu
Dan tatkala ia menjamah mulutku
Direnggutkannya lidahku yang penuh dosa
Dari segala tipu dan pongahnya;
Maka antara biirku yang telah lena
Dipasang suatu ganti yang mulia.
Serta darah yang ergelimanng antarra jarinya
Demi pedangnya meruntas membelah dadaku
Hatiku yang gemeter direnggut pula
Dan diruang dadaku yang terngaga
Ditaruh bara hidup menyala
Sepantun’rang mati terlentanglah daku
Di padang pasir’ hingga Tuhan datang berseru:
Bangkitlah, nabi, dengarkan firmanku
Arungi daratan dan lautan mara
Dan cetuskan api katamu dihati manusia!
By: ALEKANDER SERGEJEWITSJ PUSJKIN

5. Layar di Laut
Putih layar itu dan sepi
Pada biru abadi berkabut;
Lari dari apa di pangkalan sendiri?
Apa dicari dalam yang baru?

Ombak-ombak menggila dan angin melulung
Dan tiang-tiang gemeretakan
Saying! Ia bukan m’luputi sial
Pun bukan member kemujuran.

Di bawahnya: arus, gelombang lazwardi,
Di atasnya dada emas mentari.
Tapi ia, pemberontak-mengajak badai
Seakan ada damai didalam badai.
By: MIKHAIL YURYAWITJ LERMONTOW

6. Ode atas Kematian Pusjkin
“ Ayolah kamu, turunan yang angkuh dan tidak bermalu
Kaulumuri mana baik bapak-bapakmu,
Kamu, yang terdampar kemari tidak punya apa-apa
Selain kepingan nama yang agung diselamatkan kesempatan
Kamu, khalayak lapar yang berkerumun sekitar mahkota
Algojo kemerdekaan, orang ulung, dan kemegahan
Kamu bersembunyi dibalik lindungan undang-undanh
Di depan kamu, hukum dan keadilan diharuskan bisu!
Tetapi wahai lintah darat, bagimu menanti kadar Tuhan
Suatu putusan yang menyeramkan
Tidakkan dapat ia kau capai dengan emas berderingan
Yang tahu segala muslihatmu sebelumnya, bahkan juga sseala perbuatanmu
Dan sia-sialah kamu memanggil saksi mati
Yang haram yang menolongmu lagi;
Juga dengan tidak segala noda darahmu yang membeku
Kamu akan menghapus darah-pujangga yang suci.”
By: MIKHAIL YURYAWITJ LERMONTOW

7. Badik
Kau sungguh kekasihku, badikku putih-baja,
Teman berkilau dan dingin
Ditempa anak Jorja yang ngidam dendam,
Diasah anak sirkas perkasa.

Tangan yang mesra, dalam manis pamitan,
Memberikan dikau, penanda sejenak pertemuan;
Dapun darah ngelimantang pada logammu,
Tangis-bersinar mutiara pilu.

Dan para mata hitam berpaut pada pandanganku,
Nampaknya seakan dilinangi sedih cair;
Bagai matamu cerah, dimana nyala gemetar,
Mereka cepat redupnya, lalu gemilang.

Kau bakal lama teman seiringku!
Nasehati daku sampai saat ajalku!
Aku mau nanti jiwaku keras dan setia,
Seperti dikau, temanku bertajung baja.
By: MIKHAIL YURYAWITJ LERMONTOW

8. Sanjak
Sahabatku, saudara, manusia yang lesu dan siksa,
Siapa juga engkau, janganlah putus asa.
Walau merajalela dusta dan kejahatan
Disini bumi yang bersimbah tangis,
Walau cita-cita leluhur kita cemar dan kandas,
Walau tak bersalah, darah kita tumpah, yakin, ya, yakinlah:
Datang saatnya baal nanti mesti mati,
Saat kasih kembali bersinar mewaraas!

Wahai sahabatku! Tidak bukannya mimpi cakerawala teerang
Bukan harapan yang sia-sia belaka, lihat sekeliling,
Betapa sang jahat memerintah di malam pekat.
Tapi dunia telah jemu sengsara dan ejekan,
Bosan perlombaan waras dan sia-sia.
Dan dengan tangis berlinang dan do’a di Kabul
Ia nanti nengadah pada kasih abadi.
By: SEMEN YAKOWLEWITSJ NADSON

9. Ya, Luhur Musik dari Laguku
Ya, luhur music dari laguku;
Gema keluhan memenuhnya,
Nafas pahit dari jauh mengejangnya
Dan tak bungkuk punggung dibawah cambuk.

Kabut-kabut hari menimpa senja.
Pencapai tanah janjian, akupun ikut.
Sia-sia jalan yang ditelan bayang.
Dunia bangkit sekitarku bagai dinding.

Kadang dari negeri jauh itu, bisikan
Sia-sia, guruh jauh laiknya.
Dapatkah pupus sakit lama yang lesi
Ddalam lama menunggu sesuatu ajaib?
By: FLODOR SOLOGUB

10. Pintu gerbang
Dua kelana yang lesu mengetok di pintu gerbang.
Lama mereka mengetok, keras-keras dan tabah.
Bulan, lintas gumpalan kabut, sedih memandang
Mereka dibawah; malam pun sepi tiada berdesah.

Waktu berhenti, tapi ta hentinya malam buta
Mendorong batas sampai merangkum khatulistiwa.
Telah kering tenaga ditangan mereka yang luka,
Namun, berat dan bisu, gerbang belum membuka.

Tetap saja gerbang pintu yang dikunci,
Bungkem, dingin dan angkuh: bukit batu laiknya.
Si pengembara dua-dua gemetar serta pasi,
Bagai kabut mengambangdalam caya purnama.

Dan tahun-tahunpun senyum atas gagal mereka.
Dan telah istirahat keduanya di pangkuan pertiwi
Sekalipun ratusan tahun perlahan berlalu,
Hasrat mereka menyala seperti merah pagi.
By: KONSTANTIN DIMITRIWITSJ BALMONT

Daftar Pengarang Puisi :
  1.  penyair yang tak dikenal  
  2. ALEXANDER SERGEJEWITSJ PUSJKIN
  3. MIKHAIL YURYAWITJ LERMONTOW
  4. KONSTANTIN DIMITRIWITSJ BALMONT
  5. FLODOR SOLOGUB
  6. SEMEN YAKOWLEWITSJ NADSON

Advertisement