Puisi Terbaru
Loading...
Selasa, 08 Januari 2013

10 Puisi Alam Dan Lingkungan

 10 puisi Tentang Alam Dan Lingkungan - masih berhubungan dengan puisi perang rusia , puisi cinta dan perdamaian , jika puisi perang membahas tentang jiwa patriot, puisi cinta membahas tentang kasih sayang , puisi perdamaian membahas tentang adanya kebersamaan dalam satu perbedaan, puisi alam lebih mengarah untuk memanfaatkan perdamaian guna melestarikan alam dan lingkungan. berikut ini puisinya .

Lagu
Kukatakan pada hatiku, pada hatiku lemah:
Belum padakah kiranya sekedar mecinta kekasih?
Dan tak jelaskah bagimu: silih-ganti tak berhenti,
Maknanya: melebur-dalam-mendamba zaman bahagia?

Diberinya aku jawaban: belumlah lagi memadahi,
Belum lagi memadahi sekedar mencinta kekasih;
Dan tak jelaskah bagimu: silih-ganti tak berhenti,
Memestakan dikenanan kesenangan dulu kembali?

Kukatakan pada hatiku, pada hatiku lemah:
Belum padakah kiranya sekian tusukan sedih?
Dan tak jelaskah bagimu: silih-ganti tak berhenti,
Maknanya: merasakan sayat pilu ditiup ayun langkah?

Diberikan aku jawaban: belumlah lagi mewadahi,
Belum lagi memadahi: sekian tusukan sedih;
Dan tak jelaskah lagi bagimu:silih-ganti tak berhenti,
Memesrakan dikenangan kesedihan lampau kembali?
(1831)
By: ALFRED DE MUSSET

Sedih
Telah penyap tenaga dan hidupku.
Kawan-kawanku serta gembira:
Pun sombongku punah semua,
Itu sebab ‘ku yakin bakatku

Waktu mulai kenal kebenaran,
Sangkaku ia itu teman
Demi kumaklumi serta insafkan,
Aku lantas menjadi bosan.

Betapapun juga: ia itu abadi,
Dan mereka yang terhadapnya abai,
Menyiakan semua di sini.
Firman Tuhan, agar taat padaNya.
Yang bagiku terbaik lagi di dunia,
Ya, merattapinya kadang kali.
By: ALFRED DE MUSSET

Persamaan
Alam adalah kuil dimana pilar-pilarnya berjiwa
Kadang-kadang menggaungkan gebalau kata-kata;
Insane lalu di sana lintas rimba lambing dan tanda,
Yang menyuguhinya pandangan bagai seorang saudara.

Bagai gema-gema panjang yang berhimpun di kejauhan
Dalam suatu pumpunan yang dalam dan gelita,
Luas seperti malam dan laksana siang megahnya,
Aneka wangi, warna dan bunyi lalu berjaawab-jawaban.

Ada bauan ssegar, bagai daging kanak-kanak menghawa.
Manis bagai seruling, hijau seperti padang-padang
-dan juga si kaya busuk dan serba megah,

Yang bagai hal-hal abadi, menyan dan cendana.
Bagai ambar dan kesturi di dalam kembang,
Yang menyanyikan gairah dari nafsu dan jiwa.
By: CHARLES BAUDELAIRE

Manusia dan Lautan
Manusia merdeka, lautan selalu dalam minatmu!
Laut itu cerminmu dank au renungi jiwamu
Dalam gulungan ombaknya yang abadi bertalu.
Dan bagai kuburnya sangsai, begitu jurang rohmu.

Kau senang menduga sampai ke dasar wajahmu.
Kaupeluk ia dengan pandang dan lengan, dan
Kadang hatimu bingung kerna kebuncahan
Sendiri, kala dengar berontak dan liar risau itu.

Kau dua-duanya ajaib dan penuh rahasia:
Tiada insane yang sanggup menyelami ruhmu:
O, laut tiada yang tahu itu harta dalam kandunganmu,
Demikian benar cemburumu menyimpan itu rasia

Betapapun sejak abat-abat, dilupa sudah kapannya.
Kau telah berjuang tak kenal belas walau sesalan.
Demikan benar kaucinta maut dan pembunuhan.
Wahai saudara-saudara, yang tak henti perjuangannya.
By: CHARLES BAUDELAIRE

Bocah kapal
Bocah kapal: Ayahmu kelasi, bukan . . ?
Nelayan telah lama tak tentu hilsng. . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Ia istirahat dalam berai gelombang . .

Ibu mengkhidmani dipandan pekuburan
Suatu kuburan-ya, kosong-
Kini kewajiban ayah di bumi kuteruskan
Mencari nafkah bagi dua orang

Kanak-kanak.-jadi, dipantai,
Tak satupun kembali dari si mati . . ?
-cangklok dan terompah kayunya . . .

Ibupun menangis, setiap minggu,
Pelipur lara . . tapi aku tak mau
Kalah: jadi kelasi-bila dewasa
By: TRISTAN CORBIERE

Sepoi laut
Jasad bersedih, sayang! Dan telah kubaca semua buku.
Lari! Lari turun! Kurasa burung-burung mabuk rindu
Hendak melayap di tengah buih ajai serta angkasa!
Tak satupun, o para malam, tidak taman-taman tua
Yang bercermin di mata, akan menghalangi ini kalbu
Kecimpung dalam lautan, tidak terang-sepi lampuku
Curah di kertas yang kosong yang dibela oleh putihnya,
Dan tidak wanita muda yang sedang nyusukan bayinya.
Aku ‘kan berangkat! O kapal yang membuaikan tiang
Dan temali, bongkar sauhmu dan harungi alam asing !
Sebangsa kesal yang di lesu oleh kejamnya harapan
Masih berpegang pada pamitan terakhir sapu tangan!
Dan mungkin tiang-tiang yang mengandung para badai
Adalah yang dicondongkan oleh angin ke atas sisa sangsai
Kapal karam tak bertiang atau berpulau subur kecil.
Tapi, wahai kalbuku, dengar olehmu nyanyian nelayan!
By: STEPANE MALLAREME

Lagu hujan
Rinai tangis dalam hatiku
Bagai rintik hujan di kota:
Apa gerangan makna lesu
Yang nyusup masuk kalbuku?

Wahai, lembutnya netes hujan
Merintiki tanah dan atap.
Wahai, begini nyanyian hujan
Bagi hati di ambing bosan!

Terhambur ratap tak tentu sebab
Dalam hati yang jijik diri.
Apa, tiada pengkhianatan?
Sesal ini tak tentu sebab.

Memang sungguh paling perihnya.
Bila tidak setahu kita,
Tidak mendendam atau bercinta.
Hatipun larut dalam derita.
By: PAUL VERLAINE

Lagu musim gugur
Rintihan sangsai
Biola damai
Di musim ugur,

Menyemai lesu
Hingga kalbuku
Bisu mengadu.

Setiap detik
Rasa mencekik
Memucat muka,

Aku terkenang
Massa yang hilang;
Gabaklah mata.

Kulepas kapal
Di angin sial:
Aku terbawa

Ke sini ke sana,
Tiada ubah:
Daunan tua
By: PAUL VERLAINE

Bulan putih
Bulan putih
Menyigi hutan
Terpecik rintih
Dir tiap dahan,
Jatuh mengeluh

Wahai kasihku!

Dan danau tenang,
-cermin dalam-

Ngilatkan baying
Sepohon hitam:
Angin tersedu

Impikan mimpimu . . .

Lega damai
Meluas mesra,
Bagai merintai
Dir murni cuaca;
Bintangpun kabur. . .

Saatnya luhur!
By: PAUL VERLAINE

Seruan kepada lautan
Aku bermaksud dengan tidak terharu, dengan suara keras mengucapkan sajak-
Sajak sungguh dan dingin, yang bakal kau dengar. Kau perhatikanlah apa isinya dan awaslah terhadap kesan yang mau tak mau membekas olehnya, sebagai suatu cacat dalam khayalmu yang kacau. Jangan percaya aku hampir mati, karena aku belum lagi suatu kerangka, dan usia tua belum lagi hinggap di keningku. Kareena itu kita sampingkanlah dahulu segala pikiran perbandingan dengan burung undan, pada saat jiwanya melayang, dan pandang didepanmu hanya sesuatu yang menakutkan, dan yang menyenangkan aku kerna kau tak sanggup melihat sosoknya, tapi ia tidak begitu menakutkan seperti jiwaku. Betapa pun aku bukan seorang penjahat. . . . . . cukuplah tentang hal itu. Belum selang beberapa lama aku melihat laut kembali dan menginjak jembatan kapal-kapal dan kenang-kenanganku seperti jika aku bangun tidur kemarin. Bagaimanapun, jika sanggup, hendaklah kau setenang aku dalam membaca bahan yang telah menyesal, aku menawarkan kepadamu, dan janganlah merah-muka kala memikirkan apa benar jantung manusia itu . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Samudra tua, kaulah lambang persamaan: selalu tak berubah pada batinmu. Kau tidaklah berubah-ubah pada hakikatmu, dan jika gelombang-gelombangmu meradang di satu tempat. Nun jauh jau di suatu daerah lain mereka adalah sempurna tenang. Kau tidak seperti manusia, yang berhenti di jalanan melihat dua ekor anjing tangkap-menangkap tengkuk, tapi tidak berhenti bila lalu kereta mati; yang pagi harinya tak dapat di dekati dan senjanya berjiwa guram; yang tertawa sekarang dan menangis beresok. Aku hormati kau, samudra tua!
Samudra tua, tak ka nada yang tak mungkin bagi yang kauasuh dalam pankuanmu mengenahi kebutuhan-kebutuhan nanti bagi manusia. Kau telah dirangkanya. Kau tidak biar mudah saja mata ilmu alam menangkap ribuan resia dari organisasimu mesra: engkau segan-segan. Manusia tak putusnya bergembar-gembor, ya, tentang hal-hal remeh. Hormatku padamu, samudra tua!


Lagu menara tertinggi
Semoga datang, ya datang
Masa yang penuh gairah
Kerna lama tersia
Kau lupa semua
Ngeri dan derita
Nun luput ke langit
Dan dahaga kotor
Menggelap darahku.

Semoga datangn ya datang
Masa yang penuh gairah
Bagai padang-padang yang
Binasa, ditinggal.
Menyebar dan berlipat
Kembang-kembang dan semak
Dalam marah dengung
Latar yang kotor.

Semoga datang, ya datang
Masa yang penuh gairah
By: ARTHUR RIMBAUD
Copyright © 2013 Puisi Kampus All Right Reserved