Puisi Terbaru
Loading...
Rabu, 28 April 1999

10 Puisi Chairil Anwar Bag 4

 Berikut ini adalah 10 Puisi Chairil Anwar Bagian 4 Sekaligus puisi penutup chairil anwar , setelah menerbitkan puisi karya chairil anwar bagian 1, 2, 3 .

Di sebuah gedung elit di daerah Menteng,
suasananya sangat berkabung.
Seorahg lelaki bertubuh pendek, kecil,
berwajah sangat cendekia, ramah,
dan berambut ikal,
pagi itu dihadap oleh adik dan saudara-saudaranya.
Sepotong surat terbuka di atas meja tulisnya,
dan sang adik yang tersedu melipat surat itu
sambil katanya:


"Chairil sudah dua hari tidak pulang,
katanya. Karena itu Ibu Tulus datang
sendiri kemari membawa surat ini!
Padahal kemarin pagi dia baru sarapan
di sini. Waktu pulang dia mengantongi
buku dari kamar ini. Entah buku apa.
Kau periksa sendirilah nanti, Rir!"

Seorang saudara perempuan Iain menyambung
sambil juga tersedu:
"Aih... Nenek! Tapt Chairil musti segera
dicari, Kak. Saya tahu persis, betapa dia
dekat sekali dengan Nenek. Dia pasti
akan merasa kehilangan sekali!"

Saudara laki-laki lainnya menimpali:
"Dia lebih dekat dengan Nenek daripada
kepada Bang Tulus, bapaknya. Ya,
Chairil musti dicari!"

Tiba-tiba sebuah suara tawa yang khas dan
keras berderai di tengah ruang dalam itu:

"Kenapa musti dicari? Aku ada sini! Dan apa
pula pakai bertangisan? Ada ayam kalian
yang mati dipotong Jepang, rupanya?"

Semua terkejut diam memandang orang yang
tertawa dan bicara barusan.
Itulah si Chairil yang klimis mengempit buku,
sudah muncul saja tiba-tiba dan tegak di ruang
dalam itu.
Sang adik dan lain-lainnya segera saja jadi kikuk.
Mereka pelan-pelan dan diam-diam
mengundurkan diri dari sana.
Membuat Chairil jadi keheranan.
Tapi sebelum dia menyuara lagi,
laki-laki cendekia itu sudah mendekatinya.

Suaranya terdengar juga ramah ketika Iantas
berkata:
"Dari mana saja kau dua hari ini, Ril?"
"Aku?"
"Ibumu barusan saja dari sini membawa
surat itu. Surat dari Medan, Ril."
"Ada apa? Si Tulus bangkrut dirampok
Jepang dan istri mudanya karena itu
tidak pernah lagi bisa kirim uang?"
"Kalau cuma itu, tentu Tantemu tidak
perlu sampai bertangisan!"
"Lantas, apa dong?"
"Nenekmu, Ril! Meninggal bulan lalu!"
Chairil cuma sedikit saja tergagap dan sekilas.
Tapi dia Iantas bergerak ke meja tulis sambil
terdengar suaranya parau:

"Punya rokok, Oom?"

Laki-laki itu tidak menjawab,.
dan Chairil membuka kotak cerutu di atas meja,
mengambil tiga batang.
Dua batang dimasukkan ke saku bajunya,
yang sebatang lagi dibakarnya sambil
tangannya meraba surat di atas meja.
Tidak sampai dibacanya surat itu,
ketika tiba-tiba dia berbalik dan bergegas jauh keluar.
Ketika melewati laki-Iaki itu, dia sempat cuma
berkata:

"Aku pergi dulu, Oom!"

33. Lelaki yang dipanggil "Ril" itu
sekarang berjalan cepat sekali
seolah mau berpacu dengan angin.
Dia berada di atas rel kereta ketika itu,
dan di wajahnya, di matanya, tersembunyi
kepedihan yang tidak tertahankan.

34. Dan ombak di pantai Cilincing pagi itu,
juga seolah mengidap kepedihan yang sama.
Bergulung-gulung dia ke depan menghantam pantai,
menghantam batu karang,
menghantam batang-batang nyiur,
di bawah salah satu batangnya,
lelaki pedih itu tersandar sambil matanya pejam.

Ketika mata itu kemudian terbuka,
alangkah basahnya dia dan semakin merah.
Baru sekarang dirasakannya lututnya gemetar,
dan pelan-pelan tubuh itu menggelusur terkulai
duduk.
Dua buah buku yang baru tadi atau kemarin
dicurinya,
jatuh di atas pasir dan terbuka
di antara lutut-lututnya.

Kedua belah tangannya kemudian merajam
rambutnya sendiri,
sampai kepala itu tertarik tunduk
di atas lututnya.
Bagi mereka yang melihatnya,
Lelaki itu tidak lebih daripada
seseorang yang tengah tenggelam membaca.

Dan memang ada sebuah keluarga
kebetulan sedang tamasya.
Itulah keluarga Mirat, terdiri dari
seorang lelaki setengah tua sebagai Mirat Tua,
bersama istri dan adik-adiknya.
Seorang lelaki yang masih remaja dan
seorang gadis menjelang dewasa.

Mirat sekeluarga, bukan tidak melihat
lelaki yang sedang dirundung duka ini,
walau mereka berpikir bahvva orang itu sedang
asyik membaca.

Adik perempuan Mirat bahkan kemudian
terlampau lama, terlampau khusu
memandangi Lelaki itu.
Sehingga Mirat Tua menegurnya:
"Ada anak iagi naksir lelaki di bawah
pohon kelapa itu!"

Dan sang adik perempuan yap mtirasa diperolok j
adi cepat memprotesnya:
"Idih, apaan, Kamas nggak lucu.
Segala lelaki kurus kering begitu...!"

Mirat Tua tertawa, juga istrinya. Dia terus
melanjutkan sambil berjalan ke arah lelaki itu:
"Biar aku tilik wajahnya sebentar.
Kalau melihat cara dia membaca, dia itu pasti
calon sarjana, atau bisa juga seorang
Kunstener ... seniman!"

Lelaki mengangkat kepala memandang ke depan,
kepada ombak yang datang bergulung-gulung.
Bersama ombak yang bergulung datang,
dia melihat bayangan masa kanak-kanaknya
yang begitu manis, manja, bersama neneknya!

35. Di rumah, ditemuinya ibunya sedang duduk
sendiri,
sedih dan menanti.
Lelaki bermata merah dan basah,
jatuh memeluk haribaannya,
persis seperti dia berbuat sama
terhadap neneknya dulu,
di masa kanak-kanaknya!

36. Malam-malam berikutnya,
Lelaki mengunci diri dan tenggelam dalam kamar.
Dia pun mulai menulis...


Pada saat mana
terdengar juga narasi dari apa yang dia
tuliskan:
Bukan kematian benar menusuk kalbu
Kerinduanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debit dan duka maha tuan bertahta...

37. Narasi dari sajak di atas,
gaungnya sampai di mana-mana, karena
sajak ini tercetak sudah dalam sebuah
majalah yang dikelola oleh
penerbit "Balai Pustaka".

Seluruh redaksi majalah seni,
seluruh seniman dari segala kategori,
secara berantai membaca beberapa potong sajak
yang terasa bernafas baru, hangat, kuat,
kental dan sangat bersemangat,
dari seorang penyair yang sama sekali belum
dikenal,
yang menyebut diriny-a
dengan nama: CHAIRIL ANWAR!

Orang-orang pimpinan redaksi dan
atau seniman lainnya sama sibuk menelpon,
berkomunikasi membicarakan
sang penyair yang baru lahir ini.

38. Tidak urung,
beberapa di ahtara mereka berkumpul di kantor
redaksi Balai Pustaka:
Salah seorang bertumbuh pendek, berkacamata
dengan tahi lalat di dekat hidungnya,
dipanggil dengan nama YASMIN.
Seorang lagi juga berkacamata dengan rambut
dibelah dan disisir rapi.
Dia juga mengenakan dasi dan terkenal dengan
panggilan: ARMEN.
Yang lainnya masing-masing dipanggil sebagai:
QODRAT, IDRIS, BAKARUDIN dan ALL
Qodrat kelihatan bersemangat sekali menunjuk
pada syair, sambil teriaknya:

"Yang lahir sekarang ini, sudah bukan
Hamzah, bukan Tatengkeng, bukan juga
Pane, maksud saya... Pane Sanusi. Ini
sudah De Taghtiger Negeri Belanda
atau Eropa. lya toh... Men?"




Armen mengangguk kagum. Suaranya lirih dan
Cendekia sekali ketika terus berkata:

"Aku mencium nafas Marsmann, Du
Peron, atau Gide! Bukan begitu... Ali?"

Ali yang berwajah tenang dan hidung bengkok
berbau Arab itu melanjutkan:

"Juga Slauerhoff!"
"Ya, yal" menimpali Bakarudin.

Dan Qodrat lantas berseru lagi pada Yasmin
yang sejak tadi cuma tnerenungi bait-bait sajak
penyair yang baru terbit itu:

"Dia katanya berasal dari Medan. Kau
anak Medan, Min. Kau kenai siapa dia?
Maksudku latar belakang kehidupannya!"

Yasmin membuka kacamatanya dan dengan
tenangnya mengangguk:
"Tidak terlalu banyak, tapi dia memang
juniorku ketika di Mulo Medan. Kalau
tidak salah ayahnya seorang bupati atau
wedana di kota kecil Rengat yang
kemudian pindah ke Medan. Anak muda
ini, Chairil, cerdas, tapi anak ini juga telengas dan... semacam selalu nervous, resah, tidak mau kalah.—

(tertawa kecil mengenang sesuatu)
—Saya ingat peristiwa hari itu. Dia main
badminton melawan seorang seniornya
yang jauh lebih tua. Dia tahu, senior ini
lebih pandai. Tapi dia tidak mau kalah.
Dia ngotot sekali, nervous sekali. Tapi
dia memang akhirnya menang!"

Dan kita jadi teringat, Yasmin ini memang hadir
pada peristiwa di Medan itu. Ketika itu dia
memakai celana pendek.
Tiba-tiba Idris yang sejak tadi diam jadi
menyuara:
"Kau sendiri, apa pendapatmu atas sajak
itu?"

Yasmin semakin tenang mengangguk:
"Keparat sekali kesedihan anak ini...
hanya karena neneknya meninggal.
Kapan kau pernah temukan salah
seorang penyair kita menyatakan
kepedihan hatinya begini kentalnya.
Bahasa Indonesia pun seolah
mendapatkan ekspresinya yang paling penuh.
Dengarkan: —

(Yasmin mulai membaca lagi)

— Bukan kematian benar menusuk kalbu
Kerelaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu sztinggi itu atas debu
dan duka maha tuan bertahta!

Dia mulai syairnya juga sangat telengas:
'Bukan kematian benar menusuk kalbu'.
Gila, Amir Hamzah pun tidak pernah
memulai sajak-sajaknya langsung kepada
subyeknya! Juga yang lain! Dan nampaknya
anak ini sedang mempersiapkan diri untuk
hidup sebagai penyair seutuhnya.
Dengarkan sajak yang satu ini: —

(mulai membaca lagi)
— Rumahkn dari unggun timbun sajak
kaca jernih dari Iuar segala nampak
Kulari dari gedoiig lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan
Kemah kudirikan ketika senja kala
Di pagi-terbang entah ke mana
Rumahku dari unggun timbun sajak
Di sini aku bcrbini dan beranak.

Kawan-kawan, kita sedang menantikan
datangnya seorang jenius!"

39. Di atas rel kereta,
sang jenius ini masih berjalan juga
seperti semula
dengan kcgelisahannya sendiri.
40. Di atas Lapangan Ikada, seperti semula pula,
sejuta merah putih yang melambai.

41. 41 Kembali lagi ke atas rel kereta,
sang jenius tetap melangkah.
Keringat di dahinya pun seolah gemetar.

42. Kita sedang ditugaskan mencari.
Bagaimana sesungguhnya sastra di jaman
perang seperti sekarang ini?"
"Semangat! Dari tadi saya bilang
semangat, 'kan?"
"Baik, lantas bagaimana itu .misalnya?"


Dialog ini terjadi di sebuah ruang Pertemuan di
mana terdapat tulisan dalam bahasa kanji dan
Indonesia berbunyi: Keimen Bunka Shidosho!
Diucapkan pertama oleh Armen dan mendapat
jawab dari seseorang bernama Asmara.

Di sini ternyata sedang kumpul semua
pimpinan-pimpinan redaksi majalah budaya
yang sudah kita kenal sebelum ini, ditambah
beberapa orang yang nampaknya pelukis atau
juga dramawan, dan beberapa di antara mereka
terlihat juga seorang perempuan muda yang
mungkin bernama: Sri, atau Nur, atau bisa juga
nama lain.

Sri ini yang lantas tampi! ke tengah ruang,
ketika bung Asmara mengisyaratinya. Sri segera
membacakan atau mendeklamasikan sebuah
sajak kepahlawanan yang sangat romantis
dengan suaranya dan gayanya yang lembut.

Ketika sajak selesai dibacakan, sebuah tawa
Yang sangat khas terdengar
dari arah pintu masuk.

Semua yang hadir, tanpa kecuali, menoleh ke
Sana. Yang berdiri di sana ternyata Qodrat, tapi
di sebelahnya adalah lelaki bermata merah itu.
Qodrat ini yang lantas berkata:

"Kawan-kawan, saya perkenalkan:
Chairil Anwar!"

Maka tanpa kecuali lagi, semua menjadi
terperangah memandang kepadanya. Armen yang
lantas mendatanginya dan memberinya salam:
"Bung barusan mendengarnya?"

Chairil jadi tertawa lagi, khas seperti tadi.
Sambil disapunya dengan pandang seluruh
ruang dengan matanya yang merah. Sesudah itu
dia maju ke depan sambil bicara terus terang:
"Manis, sajakmu barusan cukup
romantis! Tapi bukan itu yang semangat!
Kalau mau semangat... ini!"

Chairi! mengambil kapur tulis dan mulai menulis
di papan tulis yang memang tersedia di tengah
ruang itu. Ternyata juga sebuah tulisan dari
sebuah jiwa yang gelisah. Cepat, keras, tapi juga
pasti. Sambil menulis, mulutnya ikut berbunyi .

"Aku!
Kalau sampai waktuku
Kuwait tak seorang kan meruyit
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kitbaum berlari
Berlari

Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun Ingin."

Jelas sekali nampak, betapa pengaruh sajak ini
pada yang hadir sejak tadi bagian pertama
dituliskan. Belum sampai selesai penulisan ini,
ketika...

43. Chairil sudah berada di sebuah studio lain,
studio lukis pimpinan Sudjojono, bernama
"Pusara". Beberapa orang sedang membuat
poster-poster perang, beberapa lagi sedang
melukis. Seorang gadis hitam manis juga ikut
melukis, dia inilah bernama Dien Tamaela.
Seorang opsir Jepang juga terlihat di sini.
Bagian akhir dari sajak "Aku" di atas tadi baru
berakhir narasinya di ruang ini, pada saat mana
Qodrat memperkenalkan Chairil pada Sudjojono:
"Ini... kubawakan penyair besar kita,
Chairil Anwar!"
Sudjojono langsung bergaya Medan:
"A, ya, aku ingat kau bicara tentang anak
muda ini.—
(lantas pada Chairil)

— Jadi kaulah... anak Medan itu?! Hm,
Jadel?"

Chairil jadi tertawa yang khas tadi:
"Ayahku bernama Tuius, bisa jadi Jade!."
"Tak apalah, aku juga Jadel, kok."

Tapi mata Chairil ketika ini sudah tertarik pada
gadis manis yang sedang melukis,
pada Dien Tamaela.
Seorang lain yang berjalan agak bungkuk
datang mendekat, dan Sudjojono
memperkenalkannya sebagai Basuki.

44. Di hari yang lain, di sanggar afau studio yang
sama, Basuki yang bungkuk dan berwajah ramah
ini menjadi seperti orang bingung mencari
sesuatu. Dia kemudian menjadi putus asa dan
diam. Sudjojono yang lantas jadi bertanya:

"Ngapain sih kamu kayak orang pikun?"
"Jangan-jangan memang sudah pikun
aku ini. Tapi kau kemarin masih lihat
jasku di kapstok sana, 'kan?"
"Jas yang mana sih?"
"Memangnya aku punya jas berapa biji,
sih?"
"Waduh, Bas, jangan-jangan si Jadel itu...—

(pada pelukis lain yang lewat)
— He, kau lihat Jadel-penyair itu tadi
kemari?"

Dan sang Pelukis menyambut sambil terus
berjalan:
"Chairil? Dia barusan jalan sama si Dien
ke luar?"

Chairil memang sedang bercengkrama di sebuah
Restoran bersama Dien. Sibuk sekali dia meladeni
ini sambi! makan, sambil juga bicara. Royal
sekali makanan yanpesannya, dan Dien
nampak tersipu memandangi semuanya.
"Fantastis! Magis! Menarik sekali cerita
tentang keluarga besarmu itu.
Tentang tradisi di kampungmu. Aku jadi
kepingin ke Maluku!"

Begitu Chairil bicara sambil sibuk makan, dan
sambil tidak berkedip memandang mata Dien.
Ketika Dien lantas menjawab, ah, suara itu
berdesah, semacam daun-daun bambu yang
bergeseran tertiup angin:
"...Seolah Datu kamiiah orang pertama
yang menjaga pantai, menjaga pulau. Di
pulau itu dia berbini dan beranak,
menurunkan cucn-cucunya, sampai
terlahir Tamaela. Tamaela ini kemudian
berhasil membentuk diri menjadi sebuah
keluarga besar. Aku salah seorang di
antara mereka. Tapi Datu yang pertama
dibesarkan orang dengan nama RAJAWANE!"




Chairil kelihatan terkesan sekali pada cerita ini.
Dia sampai berhenti mengunyah dan melempar
pandang ke luar.
Di luar restoran, di atas trotoir, Basuki yang
berwajah ramah, kelihatan berjalan terbungkuk-
bungkuk sendirian. Chairil jadi tegak dan
melompat keluar mendapatkannya.
Basuki dibawanya masuk ke dalam restoran.

Basuki ikut makan seenaknya, dan Chairil
menambah order semaunva. Sambil makan ini
Basuki berkata:

"Sudah jumpa Qodrat, atau Armen, atau
Yasmin? Kau diminta bicara pada
pertemuan yang akan datang!"
"Di gedung Pusat Penerangan Jepang
itu? Sudah!-

(memperlihatkan coretan-coretan)

— Ini aku sedang susun pidato itu.—
(kepada Dien)

— Ha, kau tentu datang, ya, Dien?! Tapi
kau ini lagi mau ke mana?"
"Cari kau!"
"Aku? Jadi kebetulan aku melihatmu
barusan dan mengajakmu makan!"
"Ya, dan terima kasih! Nanti malam ada
pembukaan pameran. Aku musti hadir,
jadi aku perlu baju hangat. Aku cari
jasku! Apa kau tidak melihatnya, Ril?"

Chairil tenang, sama sekali tanpa dosa
menjawab:
"Sudahlah, tak usah kau risaukan jas buruk
itu. Ke pameran toh tidak musti pakai jas,
apalagi karena jas itu sudah berada dalam
perutmu! Ya, perut kita semua!"

Baik Dien, apalagi Basuki jadi cuma bisa
berbelalak sambil mendesah:

"Hah...?!"
"...Seni kita sampai kini masih dangkal,
picik benar. Tak lebih dari angin lalu
aja. Menyejukkan kening dan dahi pun
tidak!
Dengarkan!!
Wahyu dan wahyu ada dua. Tidak tiap
yang menggetarkan kalbu, wahyu yang
sebenarnya. Kita musti bisa menimbang,
memilih, mengupas dan kadang-kadang
sama sekali membuangnya.
Ida! Vitalisme!
Tenaga hidup! Api hidup!
Mata Ida bertanya, kulihat. Kalau-kalau
vitalisme ini mungkin diresapkan dalam
seni?
Mengapa tidak, Adik? Bahkan sifat ini
tidak mungkin dihilangkan atau
ditiadakan. Karena vitalisme adalah
sesuatu yang tidak bisa dielakkan dalam
mencapai keindahan.
Tiap seniman harus seorang perintis
jalan, Adik. Penuh keberanian, penuh
tenaga hidup. Jadi perasaan dalam
hidup, di kilat sinar surya, dengan
ketawa gembira, karena kita penuh api
kerja...
Dukung aku, Ida...!"

Pidato ini dibacakan oleh seseorang yang bukan
Chairil, bisa jadi Yasmin yang membacakan.
Dan sesuai pembacaan, Yasmin berkata:
"Sayang pidato kesenian yang padat dan
sarat akan pikiran-pikiran maju ini,
tidak bisa dib
Copyright © 2013 Puisi Kampus All Right Reserved