10 Puisi Perang Rusia Bagian Ke Tiga

10 Puisi Perang Rusia Bagian Ke Tiga

 10 Puisi Perang Rusia Bagian Ke Tiga - Perang selalu menyisakan kepedihan dan sepertinya perang selamanya tidak akan menambah apapun kecuali hanya menciptakan kerusakan, jika kita hidup di atas bumi yang satu dan berteduh di bawah langit yang satu lantas mengapa kita hidup tidak bisa bersatu. 10 Puisi Perang Rusia Bagian Ke Tiga ini kelanjutan dari 10 Puisi Perang Rusia Bagian Pertama dan 10 Puisi Perang Rusia Bagian Ke Dua

Samar senja
Surya meredup bagai sekuntum mawar layu,
Kepala terkulai, lesu, seakan dalam mimpi,
Dan kelopak emasnya mengoraklah pelahan:
Daunan kemilau bersama merah warna tepi.

Alangkah tentram dunia dan damai bernafas lega
Hanya lonceng-malam berklenengan dari jauh,
Melembut melodis, seperti suara dari surge,
Dari sekuntum bintang, ajaib dan tinggi.
By: SANDOR PETOPI

Padang-padang liar Hongaria
Dalam gemulut rumputan merancah kakiku,
Padang-padang meliar, jerit gagak membiar-
Sambutan suram ini tidak asing bagiku:
Begitu gelagatnya gurun negeri meniar.

Tanah pupuk yang kudus dengan kening kucecah,
Dibawahnya cacing-cacing pasti mengerat_
Duri-duri terkutuk! Semak-semak keparat!
Apa enggan sekuntum kembang tampil ke-caya?

Lintas jarring yang jahat melata itu,
Aku mau danger semangat bumi yang lena.
Lalu mewangi kembali dan mempesona daku;
Kembang kemaren, dari luruhan k’lopaknya.

Diam di sekitar. Siuran sayur yang melitar,
Membelit daku, menutup, lalu menidirkan. . . .
Sedesau angin lewat dengan tawa bergegar
Lintas gurun yang mendesak batas pandangan.
By: ENDRE ADY

Darah dan emas
Bagi telingaku tiada bedanya,
Apa sedih membelalak, atau berahi mengerang’
Darah mengalir atau emas gemerincing.

Aku tahu dan tetap memegang: hanya segitu
Dan percuma harta benda selebihnya
Emas dan darah, emas dan darah

Semuanya fana dan semua berlalu
Pangkat, ganjaran, keharuman nama
Yang tetap hidup: emaas dan darah

Bangsa-babgsa penyap dan bangun lagi
Tapi, seperti aku: kudus, adalah perwira
Yang tetap menganut: emas dan darah.
By: ENDRE ADY

Dengan hati suci
Aku tak lagi punya papa atau ibu,
Tuhan ataupun tanah air,
Buayan ataupun kain kafan,
Ciuman ataupun kekasih.

Telah hari ketiga aku tak makan
Tidak banyak dan juga tidak sedikit.
Usia duapuluh, itulah megahku,
Duapuluh tahun ku tawarkan dikau.

Andai tak ada yang mau nerima,
Setan pasti dating memborong.
Dengan hati suci akupun merompak,
Dak kalau perlu, orang kubunuh.

Orang ‘kan tangkap dan gantung aku,
Mengubur daku di tanah suci,
Tapi rumput beracun segera tumbuh
Dari hatiku yang tetap suci.
By: ATILLA JOZSEF

Musim gugur
Malam perak bangun di tengah dingin yang sedap;
Swara gadis-gadis dilemparkannya kepada angin.
Sabit dari bulan membungkuk untuk mengusap
Rambut yang ditaburi gelap dengan sedikit embun,

Ombak yang kecimpung, swara-swara dalam gelita,
Suatu baying tercurah di balik tabir cahaya,

Suatu cermin, pada mukanya musim gugur seakan
Menafaskan abu-abu perak dari mimpi-mimpiku.
By: JOSEF HORA

Stare zeny (fragmen-fragmen)
Sore-sore minggu yang sendu
Disayukan perempuan tua
Melenggok ke jendela
Lewat kelusuhan
Atas kelusuhan ambal
Antara meja dan ranjang
Cermin dan foto
Kursi dan palma titeron

Bersandar kerangka di jendela
Mereka nanapi jalan raya
Dari itulah kesia-siaan
Sore-sore minggu

Mata dari perempuan-perempuan tua
Tiada berlinang dan segan-segan
Cemas dan lembut
Mata terpaku pada ujung

Buah sonder biji
Talam sonder atalan
Ruang ruang kelemahan
Fragmen-fragmen music tua
Sumur-sumur berisi lumpur
Genangan air sonder pembayangan

Perempuan-perempuan tua tersandung ke dalam kematian
Dan perhentian yang telah begitu sedikit
Sepanjang jalan-jalan yang dikenal
Hanya debu-debu atas sulaman
Ujung ambal yang melekuk
Rimah yang jatuh
Segala itu perhentian-perhentian
Tangan-tangan erempuan-perempuan tua
Lupa sekarang mengelus tengkuk laki-laki

Rambut kanak-kanak
Hanya cukup kuat
Untuk pengikat selampai
Penghapus air mata

Rambut-rambut perempuan-perempuan tua
Tiada ia beroleh belaian angin
Tiada yang sembunyikan wajahnya
Tiada yang membasahi bibirnya
Dalam embun bereka
Tiada kain buat ketelanjangan siapapun juga
Hanya satu lengkuk kecil
Dapat dibuat dari itu

Sore-sore minggu yang mati
Sedih karena wajah perempuan-perempuan tua
Di mana hanya terbayang
Kebosanan dan penyakit
Tiada kenangan, tiada renungan
Tiad kerinduan, tiada harapan
Hanya cacing ketiduran
Oh sore-sore minggu yang sedih
Atas kuburan perempuan-perempuan tua
By: FRANTISEK HALAS

Telah saatnya
Katubkan bibirmu keduanya, diam dan tegas.
Nyaris kikis percaya kami dan dari dunia
Kami dipisah oleh impian lembut-bercampur-manis-

Tiap kata kami mesti berakhir dalam madu membius.
Dalam xaman kabur ini, penuh bimbang dan ragu,
Kerap nian dengan kata-kata hidup kami ditembus.

hanya jika bergumuruh jatuh menimpa:
kesal khalayak yang numpuk meninggi gemintang
dan seluruh bangsaku malang berkubur di awahnya
By: FRANTISEK HALLAS

Kenyataan-kenyataan
Kalian lihat surga bergumul dengan kabut
Rumput merah
Jaring lawa digantung embun
Ulat dan kutu jauh dari bumi

Gerbong-gerbong bermuat umbi
Jika kereta di gerakkan ke sana
Dan orang banyak gemetar dikesunyian kampung

Intip kalianlah udara musim rontok keanak-anakan
Prempuan yang dating
Menempuh hujan mengguntur

Kalian lihat angkutan tentara melewati
Burung gagak dipemandangan sedih
Segala ini

Tetapi juga kita lihat ikan-ikan di kolam renang
Labah-labah dalam hati kanak-kanak
Tabung-waktu berisi semut

kita lihat ketumbuhan gunung
dan kehancurannya jadi debu kabut
dari mana Kristal-kristal burung

dan abat pertengahan dengan gerobak dan khadam
dengan uap darah kuda dan api kasar

dan akhirnya kita sampai nun di bumi Moravia
rule de la paix
di mana kaca-toko menyala
dengan keharuman-damai minyak-wangi Gemey
By: LUDOVIC KUNDERA

Kantilena dari dendam
Hari baru senja, telah mersik jari-jari berambut pada tangan hitam
Dan dibawah bulan-kuda merah-pucat kedengaran keluhan,
Kaena segala di sini dusta – juga lilin-lilin yang kedip-kedip makin lama makin suram
Dan patung-patung suci, yang pucat, termangu kering dan tiada nafsu.

Juga dusta di sini setangkai kembsng cantik, yang mengenjang segala dengan kewangian,
Bulan, yang lesu mengira menyalakan mimpi,
Jari-jari berambut, berpeluh karena tiada di gerak-gerakkan pada tangan hitam
Dan di atas segalanya berdusta di sini bulan yang mengeluh dan menangis.

Maka matilah karena lesu bulan, yang begitu lama dan iseng mengintip dan meratap
Beragam ngeri: maka menyala api dalam tangan dan jari-jari kurus berambut- yang lebih dusta dari yang lain-
Sekarang menjangkau yang lembut sepanjang dinding kelam makin tinggi
Menjangkau dan merayap pita-pita dari regin dan meraba-raba dan
Mencari sampai ketekanan-tekanan
Lalu memainkan lagu mual, sebuah senandung, yang akhirnya karam dalam sedih-sendu
By: KAREL HLAVACEK

Read More
10 Puisi Perang Rusia Bagian Ke Dua

10 Puisi Perang Rusia Bagian Ke Dua

 10 Puisi Perang Rusia Bagian Ke Dua
Beriku ini adalah sepuluh puisi perang rusia bagian ke dua , di mana puisi ini masih berkaitan dengan 10 puisi perang rusia bagian pertama , isi puisi hampir sama yaitu mengambil topil tentang kondisi perang, tapi di bagian kedua ini ada perbedaan yaitu jika di bagian puisi pertama menyangkut semangat , adapun puisi bagian kedua menyangkut sosial. berikut puisinya selamat membaca.

Seorang bapa Rusia kepada bapa-bapa Jerman
Sekarang kita berdiri di lapang terbuka
Engkau tidak usah balik ke brlakang atau menangis
Puteraku pemuda komunis, anakmu seorang fasis
kesayanganku seorang laki-laki tulen, anakmu algojo
dalam segala pertempuran, ditengah api berkobar tak putus
dalam sedu-sedan seluruh manusia
pemuda berteriak, seribu kali jatuh, seratus kali bangun
memanggil anakmu bertnggung jawab atas kejahatannya.
By: PAWEL ANTOKOLSKY

Wasilli tierkin
Di tengah tanah air Rusia,
Berjuang melawan angin, dengan dada busung
Melalui padang salju, begitulah maju Wassili
Tierkin. Ia pergi mengalahkan orang Jerman.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . .
Dalam gemuruh meriam
Seperti keluar dari gerbang neraka
Menuju ke timur, keluaar dari kabut dan bau busuk
Malalui jalan raya, seluruh bangsa menarik diri
Ke timur, menembus kabut dan asap
Keluar dari penjara gelap gulita

Kembali Eropa ke rumah masing-masing
Sedang kapuk kasur beterbangan di atasnya
Dan kepada serdadu rusia melihat
Kawan seperjuangan Perancis, Inggris,
Polan dan banyak orang lagi, dengan rasa persahabatan
Bercampur minta maaf dan terima kasih.
Itulah dia yang memerdekakan kita
Ia memakai pici miring, bergambarkan binatang
“ Betul saya, katanya . . .,” mengapa tidak, saya selalu ada,
Kalau perlu bantuan
Saya tidak banyak kehendak. . . .
Itu kewajiban kami, tak lebih tak kurang. . . .
Dan tidak kami sesali bendera-bendera lain.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . .saya tidak lebih baik atau lebih jahat dari orang lain
Akan mati dalam peperangan ini
Tapi, apabila perang habis nanti, hai
Berilah saya tempoh sehari
Berilah kepada saya, hari penghabisan itu
Bersuka cita-ria dalam keramaian damai seluruh dunia
Mendengr salvo kemenangan
Yang akan menderam dia tas moskau
Berilah saya kesempatan agak sedikit
Untuk berjalan-jalan antara mereka yang hidup
Biarlah saya mengetuk
Jendela rumah didaerah kelahiran
Dan kalau orang keluar
Oh malaikat maut, izinkan saya
Berkata sepatah lagi
Ya, sepatah saja
. . .tidak. tidak akan saya izinkan”
Tierkin gemetar, ai, yang telah kaku
Diliputi oleh kain kafan salju.
Saya masih hidup, serdadu hidup
By: ALEXANDER TWARDOWSKY

Nukilan dari: Lagu hati yang tersinggung
Bagi kita abad sengsara
Hari lahir dicab besi panas
Dalam ayunan, manusia telah biasa
Menerima nasib jadi serdadu

Angin panas hawa perang
Melalui masa rampas merempas
Tuan berjalan. Kami enggan
Kembali menjadi liar
Dengan impian ketenangan,
Persaudaraan dan damai.

Itu warisan kita. Kita ikut
Janji dengan waja;
Pagi menyingsing asap bergumpal
Siding mati akan menuju hidup
Dan hidup takkan mati,
Tak terkalahkan
By: ALEXEJ SURKOW

Permohonan sebuah boneka
Berjalan berat bagi anak-anak.
Jalan jauh mendatangkan lelah.
Tapi aku akan ikut, karena
Enkgau pergi bersama-sama
Karena saya hanya barang.
Anak kecil minta makan dan minum
Tapi saya tidak pernah minta apa-apa,
Karena saya boneka, karena saya barang.
Kapal terbang negeri asing
Menukil kebawah membunuh anak,
Bagi saya ia tak berbahaya,
Karena saya barang.
By: ALKADY KULJESJKOW

Lima pelor
Pada musuh kulepas pelor pertama;
Pelor, kecap darahnya,
Agar dnjeprku saying dan bumi, inangku,
Berbalas dendamnya setapak demi setapak

Pelorku kedua,- dari bunda asalnya
Pembalas siksa ia derita
Kembali aku nanti, ibu tak ada lagi
Rombongan bedebah telah pukul ia mati

Lagi sebuah pelor- dari kakakku perempuan
Pembalas kekejaman berlaku atasnya
Mereka seret kakakku ke pinggir sungai dnjepr
Mereka perkosa dengan kejamnya

Pembalas temanku, pelor keempat kulepas
Ia berjuang di sampingku di selatan.
O, tangan, tetalah engkau ! M’layanglah pelorku
Balaskan bagiku ajalnya dini saat.

Pelor terakhir penembak mati seorang
Tepat bersarang dijantung sang fasis,
Pembalaskan tanah airyang ku punya dan jaga
Junjungan hari selama hidupku

Lima pelor kulepas, lalu cepat
Gagang pelor kembali kuisi
Pembuktian pada musuh dimedan perang
Betapa kekal setia-Rusiaku.
By: ANATOLI SOFTRONOW

Dendamnya kepada Tsar
Kala dipaksa ke Siberia jalan kaki,
Akupun kerja paksa dengan rantai dikaki,
Tapi sama-sama dengan kaum pemabuk ini,
Aku mau banting tulang . . . untuk Tsar

Andai bagi teman hidup kupilih istri,
Akan kau pilih sseorang wanita Tartar,
agar dari turunanku nanti terlahir
seorang algojo . . . untuk Tsar

bila aku nati jadi petani,
bibit kusemani: bibit rambut putih
hingga bila sampai ajalku nanti,
sedia bahan tali . . . untuk Tsar.

Serat putih yang abu-abu
Akan tegas m’luncuri tanganku.
Dari padanya jerat di jalin putraku
Untuk Tsar . . . untuk Tsar
By: ADAM MIKIEWICZ

Doa
Tuhan, lepas lonceng mas berkleneng puas
Di dalam hati kami, lepas polandia membuka
Hamparan didepan kaki kami yang lesu,
Seperti haririntar meretas udara.

Mari kita cuci kediaman bapa kita
Dari kesalahan , sedih dan dosa kita,
Kala mengemasi batu-batu yang pecah.
Biar miskin asal bersih itu rumah

Yang berdiri di pandan pekuburan.
Dan pabila bangkit kembali negeri
Kita yang seakan bagai mayat terhantar.
Biar ia diperintah kaum yang jujur.

Oleh buruh. Biar rakyat dengan megah
Berdiri di tengah fajar kemerdekaan
Yang baru bersih: limpahkan ke tangannya
Hasil panan dari tetesan jerihnya.

Jangan biar uang berlipat ganda
Bagi mereka yang tidak mau berbagi,
Lempar si berkwasa dari tempat tingginya
Dan lepas si dina menerima warisan.

Beri kami kembali roti Polandia kami
Dan nikmat rasa anggur polandia;
Apabila kami mati, kuburkan kami
Dalam peti dan pada kayu Polandia.

Dengan sedih dan duka mengabur pandangan,
Kamupun berlutut, di bumi berdo’a,
Agar mereka yang tinggal dan bertahan,
Memaafkan mereka yang melarikan diri.
By: JULJAN TUWIM

Segala
Di manpun kami jumpa,
Terpancar sekitar dunia,
Di Lissabon atau di London,
Pasang tetap menghancurkan dan
Punah harap ‘kan balik seg’ra.

Apa yang kita perjuangkan?
Hasrat kita apa gerangan?
Merebut hak kita kembali?
Tidak, bukan harta ‘tau nama,
Pun bukan peristiwa fana
Diniat, tapi ujut yang suci.

Tujuan bukan hendak kuasa,
Tapi – sekedar nanti dimasa
Depan dapat lagi duduk sama
Bukan untuk memaksa orang
Cakap ‘rang kampong, dengung latar,
Dan ringkik kuda dipasang senja.

Bukan untuk memaksa orang
Mengikut kita, tapi pulang
Dan hidup ditengah k’luarga,
Makan roti milik sendiri,
Jalan lurus, tak kenal ngeri,
Menyalami gemintang malamnya.

Untuk lintas jendela menjenguk
Kedahan-dahan kayu berperak
Rintik hujan, menjulang basah;
Jala-jalan dan jumpa dengan
Teman di kakilima – bersalaman
Tak seberapa – tapi segala.
By: ANTONI SLONIMSKI

Kuimpikan hari-hari bersimbah darah
Kuimpikan hari-hari bersimbah darah
Yang bakal pukul dunia hancur-luluh
Dan diatas puingan dunia lama
Membangunkan lagi dunia baru.

Akh, berbunyi, berbunyi juga hendaknya
Sipongang nafiri untuk perempuan.
Tanda menyerbu, tanda menyerbu,
Tak ayal lagi lekas diberikan.

Aku melompat dengan bagia di kalbu
Ke atas pelana di punggung kudaku
Lalu menyerbu di medan pertempuran
Dengan gairah yang t’lah sifat jiwaku

Dan jika jiwaku dadaku direcai tusukan
Akan ada seorang yang bakal balutnya
‘kan ada yang bawakan penawar siuman
Hingga lukaku jadi sembuh olehnya.

Andai aku ditawan, ‘kan ada seorang
Yang cari daku sampai dalam penjara
Dan dengan, ya, bintang timur matanya
Mengenyahkan di sana segala gelita.

Dan andai aku mati di tiang gantungan
Atau maut menyambar ditengah medan
Akan aada seorang yang dengan tangisnya
Mencuci mayatku bersimbah darah
By: SANDOR PETOPI
Read More
10 Puisi Rusia Bagian Pertama

10 Puisi Rusia Bagian Pertama

 Berikut ini adalah 10 Puisi Perang Karya sastrawan rusia masa perang dunia ke 2 , dalam bait bait puisi mereka menjelaskan sebuah kesedihan semasa perang , puisi tentang perjuangan, harga diri, sosial , semangat dan motivasi dan lain sebagainya , banyak sekali puisi karya sastrawan rusia , berikut 10 puisi bagian pertama yang baru saya kutib dari buku hasil terjemahan ke bahasa indonesia , selamat membaca

1. Gerhana matahari
Igor di tepi sungai Donetz-tiba-tiba melihat
Semacam gelita menyelubungi tentaranya;
Ia menengadah mencari benderang;
Tapi, ah! Mentari seakan kehilaangan bulan sabit,
Bertitik api yang menyala pada tiap tanduknya,
Dan diudara gelap bermunculan bintang-bintang;
semua yang melihat berkunang-kunang matanya.
“ Alamat buruk”, begitu kamit para perajurit.
Orang-orang tua lesu menekurkan kepalanya:
“Alamat bagi kita: ditawan atau mati”.
Tetapi raja Igor: kawan-kawan seperjuangan,
Penjara lebih sengsara dari pada mati,
Tapi siapa dapat mengatakan, alamat buruk ini
Meramalkan kalahnya kita atau kalahnya musuh?
Ayo, mari pacu kuda kita yang cepat,
Supaya akhirnya kelihatan sungai Don yang biru!”
Ia tidak peduli alamat mentari,
Demikian besar hasratnya ke sungai besar itu . . . .
By : penyair yang tak dikenal

2. Kepada penyair
Pantangan, penyair, mengharap sanjung ‘rang ramai.
Riuh tepuk mereka sebentar mati gemanya;
Lalu kau dengar putusan timbangan pak tolol
Dan ketawa khalayak yang bikin hati patah;
tapi andai kau teguh, tak guncang dan sederhana,
rajalah engkau dan nasib raja ikut sendiri.
Batin bebas didiri berseru padamu: teruskanlah !
Sempurnakan kuntum indah dari mimpi-mimpimu,
Tapi jangan harap-puji atas buah ciptamu.
Puji berakar dibatin; hakimnya engkau sendiri,
Dan ambil putusan terkeras terhadap diri sendiri.
Tapi, andai kau puas, biar itu kawanan menggonggong,
Peduli mereka meludah dinyala mimbarmu
Dan pada tarian asap menyal dari kuilmu
By: ALEKANDER SERGEJEWITSJ PUSJKIN

3. Elergi
Seperti akibat anggur memberat
Gairah hidup yang mati dari hari-hariku menggila;
Dan seperti anggur yang kian tua kian keras
Lebih berat masa silam itu pada kejatuhanku.
Jalanku suram-suram. Laut masa depan yang menggemuruh
Hanya memawa alamat bagiku: banting tulang dan duka lara…
Tetapi wahai teman, aku tidak inginkan mati!
Aku mau hidup, mimpi dan bertarung lagi!
Dirancah susah, takut dan sengsara.
Aku tahu, aku akan mengecap suka-ria.
Aku akan mabuk sekali lagi dipuncak dewata,
Digugah mencucurkan air mata oleh renungan punyaku sendiri,
Dan mungkin bila duka penghabisan mendekat datang,
Baru cinta dan senyum-pamitan menggilai menang.
By: ALEXANDER SERGEJEWITSJ PUSJKIN

4. Nabi
Jiwa rengsa karena dahaga rahmat
Kembara daku digurun tandus
Disamping jalan tiba-tiba terlihat
Muncul bidadari bersayap enam;
Mataku di sentuh jarinya mengelus
Terkejut laksana mata rajawali
Terbuka nyelang dititis ilham
Tatkala telingaku diraba jari tilus halus
Kudengar segala getaran di cakrawala
Para bidadari melintas di langit tinggi
Hingga serangga nan bergerak dasar samudra
Serta anggur yang lilit membelit kayu
Dan tatkala ia menjamah mulutku
Direnggutkannya lidahku yang penuh dosa
Dari segala tipu dan pongahnya;
Maka antara biirku yang telah lena
Dipasang suatu ganti yang mulia.
Serta darah yang ergelimanng antarra jarinya
Demi pedangnya meruntas membelah dadaku
Hatiku yang gemeter direnggut pula
Dan diruang dadaku yang terngaga
Ditaruh bara hidup menyala
Sepantun’rang mati terlentanglah daku
Di padang pasir’ hingga Tuhan datang berseru:
Bangkitlah, nabi, dengarkan firmanku
Arungi daratan dan lautan mara
Dan cetuskan api katamu dihati manusia!
By: ALEKANDER SERGEJEWITSJ PUSJKIN

5. Layar di Laut
Putih layar itu dan sepi
Pada biru abadi berkabut;
Lari dari apa di pangkalan sendiri?
Apa dicari dalam yang baru?

Ombak-ombak menggila dan angin melulung
Dan tiang-tiang gemeretakan
Saying! Ia bukan m’luputi sial
Pun bukan member kemujuran.

Di bawahnya: arus, gelombang lazwardi,
Di atasnya dada emas mentari.
Tapi ia, pemberontak-mengajak badai
Seakan ada damai didalam badai.
By: MIKHAIL YURYAWITJ LERMONTOW

6. Ode atas Kematian Pusjkin
“ Ayolah kamu, turunan yang angkuh dan tidak bermalu
Kaulumuri mana baik bapak-bapakmu,
Kamu, yang terdampar kemari tidak punya apa-apa
Selain kepingan nama yang agung diselamatkan kesempatan
Kamu, khalayak lapar yang berkerumun sekitar mahkota
Algojo kemerdekaan, orang ulung, dan kemegahan
Kamu bersembunyi dibalik lindungan undang-undanh
Di depan kamu, hukum dan keadilan diharuskan bisu!
Tetapi wahai lintah darat, bagimu menanti kadar Tuhan
Suatu putusan yang menyeramkan
Tidakkan dapat ia kau capai dengan emas berderingan
Yang tahu segala muslihatmu sebelumnya, bahkan juga sseala perbuatanmu
Dan sia-sialah kamu memanggil saksi mati
Yang haram yang menolongmu lagi;
Juga dengan tidak segala noda darahmu yang membeku
Kamu akan menghapus darah-pujangga yang suci.”
By: MIKHAIL YURYAWITJ LERMONTOW

7. Badik
Kau sungguh kekasihku, badikku putih-baja,
Teman berkilau dan dingin
Ditempa anak Jorja yang ngidam dendam,
Diasah anak sirkas perkasa.

Tangan yang mesra, dalam manis pamitan,
Memberikan dikau, penanda sejenak pertemuan;
Dapun darah ngelimantang pada logammu,
Tangis-bersinar mutiara pilu.

Dan para mata hitam berpaut pada pandanganku,
Nampaknya seakan dilinangi sedih cair;
Bagai matamu cerah, dimana nyala gemetar,
Mereka cepat redupnya, lalu gemilang.

Kau bakal lama teman seiringku!
Nasehati daku sampai saat ajalku!
Aku mau nanti jiwaku keras dan setia,
Seperti dikau, temanku bertajung baja.
By: MIKHAIL YURYAWITJ LERMONTOW

8. Sanjak
Sahabatku, saudara, manusia yang lesu dan siksa,
Siapa juga engkau, janganlah putus asa.
Walau merajalela dusta dan kejahatan
Disini bumi yang bersimbah tangis,
Walau cita-cita leluhur kita cemar dan kandas,
Walau tak bersalah, darah kita tumpah, yakin, ya, yakinlah:
Datang saatnya baal nanti mesti mati,
Saat kasih kembali bersinar mewaraas!

Wahai sahabatku! Tidak bukannya mimpi cakerawala teerang
Bukan harapan yang sia-sia belaka, lihat sekeliling,
Betapa sang jahat memerintah di malam pekat.
Tapi dunia telah jemu sengsara dan ejekan,
Bosan perlombaan waras dan sia-sia.
Dan dengan tangis berlinang dan do’a di Kabul
Ia nanti nengadah pada kasih abadi.
By: SEMEN YAKOWLEWITSJ NADSON

9. Ya, Luhur Musik dari Laguku
Ya, luhur music dari laguku;
Gema keluhan memenuhnya,
Nafas pahit dari jauh mengejangnya
Dan tak bungkuk punggung dibawah cambuk.

Kabut-kabut hari menimpa senja.
Pencapai tanah janjian, akupun ikut.
Sia-sia jalan yang ditelan bayang.
Dunia bangkit sekitarku bagai dinding.

Kadang dari negeri jauh itu, bisikan
Sia-sia, guruh jauh laiknya.
Dapatkah pupus sakit lama yang lesi
Ddalam lama menunggu sesuatu ajaib?
By: FLODOR SOLOGUB

10. Pintu gerbang
Dua kelana yang lesu mengetok di pintu gerbang.
Lama mereka mengetok, keras-keras dan tabah.
Bulan, lintas gumpalan kabut, sedih memandang
Mereka dibawah; malam pun sepi tiada berdesah.

Waktu berhenti, tapi ta hentinya malam buta
Mendorong batas sampai merangkum khatulistiwa.
Telah kering tenaga ditangan mereka yang luka,
Namun, berat dan bisu, gerbang belum membuka.

Tetap saja gerbang pintu yang dikunci,
Bungkem, dingin dan angkuh: bukit batu laiknya.
Si pengembara dua-dua gemetar serta pasi,
Bagai kabut mengambangdalam caya purnama.

Dan tahun-tahunpun senyum atas gagal mereka.
Dan telah istirahat keduanya di pangkuan pertiwi
Sekalipun ratusan tahun perlahan berlalu,
Hasrat mereka menyala seperti merah pagi.
By: KONSTANTIN DIMITRIWITSJ BALMONT

Daftar Pengarang Puisi :
  1.  penyair yang tak dikenal  
  2. ALEXANDER SERGEJEWITSJ PUSJKIN
  3. MIKHAIL YURYAWITJ LERMONTOW
  4. KONSTANTIN DIMITRIWITSJ BALMONT
  5. FLODOR SOLOGUB
  6. SEMEN YAKOWLEWITSJ NADSON

Read More
Puisi Gombal

Puisi Gombal

Puisi Gombal - Berikut ini adalah puisi gombal bernada sedih , biasanya puisi
Puisi Gombal - Berikut ini adalah puisi gombal bernada sedih , biasanya puisi seperti ini atau bahasa seperti ini di gunakan oleh cewek atau cowok yang ingin menjaga jarak orang yang sudah tidak di cintai.

Tangisku di keheningan Malam
Jerit Rintih Atas Hendak Orang Tua
Korbankan Pendidikan Untuk Perjoddohan
Air Mata Berlinang Seiring Jeritan

Hariku berteman dengan kepliuan
Kesedihan di kala kesendirian
Berjalan di atas mimpi
Cari kedamaian Hati

Ku Cari Iklas Dan Rela
Ku cari sabar di hutan luka
KU Usaha tegar dalam raga lemah
Ku senyum di atas linangan air mata

Sebagai anak
ku bisa pasarah
Jika melawan
Sama ku bunuh mereka


Sebagai hamba hanya bisa berdoa
Jika menentang
Sama saja ku tidak berimana

Dan Kini
Ku sujud dan berdoa
mohon penerangan langkahku
untuk mengarungi hidup bersama pilihan orang
cinta cita itu selalu ada

Read More
10 Puisi Chairil Anwar Bag 3

10 Puisi Chairil Anwar Bag 3

 10 Puisi Chairil Anwar Bag 3 Adalah kelanjutan dari 10 Puisi Chairil Anwar dan 10 Puisi Chairil Anwar Bag 2
Sang cucu, remaja pewaris mata merah,
jadi berlari lagi ke dapur belakang dan dapat
menyaksikan:

Di sana, depan dapur di pekarangan belakang,
dekat sumur tua dan di bawah pohon mangga
yang sekarang sudah menjadi besar tinggi dan
rimbun,
sang ibu tersedu sendiri
teramat sedih
dan sunyi!

Maka tak tersisa lagi bekas-bekas kemenangan
yang barusan diraihnya,
juga tidak tersisa kegembiraan bekas mengecup
putri paling cantik tadi.
Anak yang sedang remaja itu terkulai di tiang
pintu dapur yang lebar-lebar terbuka.
Di wajahnya bermukim kegelisahan dan dendam
yang sangat terhadap ayahnya!

Ombak Laut Cina Selatan
menghantam butiran sebuah kapal pasasi
dengan bengisnya.
Di atas geladak mana, berdiri sang remaja kita.
Dia tidak peduli pada hempasan ombak yang
sampai menampar muka dan badannya.
Tidak peduli juga pada badai angin yang
mengais-ngais rambutnya.
Wajah remaja itu dengan serta-merta menjadi
dewasa menghadapi ombak dan badai lautan,
ombak dan badai dirinya sendiri.
Dia bahkan menolak ajakan sang Ibu
yang mengikutinya, ketika yang terakhir ini
mengajaknya masuk dalam kabin:


"Biarkan aku sendiri, Ibu," katanya
kepada Ibunya. "Yang ini bukan apa-apa,
karena aku tahu, aku masih akan
menghadapi gelombang dan badai yang
seribu kali lebih besar. Dan mungkin...
sejuta kali juga lebih sunyi!"

Dan gelombang merah-putih di Lapangan Ikada
semakin membusa diiringi oleh sejuta suara
orang yang mulai menyanyikan lagu:
“Dari Barat sampai ke Timur, berjajar pulau-
Pulau!”
Sementara kaki-kaki tanpa alas,
kaki-kaki bersepatu,
atau mereka yang mengenakan dasi,
terus juga mengalir memasuki-lapangan.
Dan bayonet-bayonet telanjang pasukan Jepang
makin juga merapatkan barisan.

 Wajah gelisah
dari lelaki bermata merah
masih juga berjalan di atas rel kereta.
Beberapa kali kakinya terantuk
bantalan-bantalan rel kereta,
tak dihiraukan.
Matanya tetap memandang ke depan
seolah sedang memperhatikan
perjalanan nasibnya sendiri
yang tidak karuan...

Di teras sebuah lobi hotel di Jakarta,
sebuah ensamble musik kamar
memainkan lagu-lagu romantis zaman sebelum perang
Semua orang berpakaian lengkap melulu
berdansa di sana.
Banyak tuan dan nona bangsa Belanda,
ada juga kadet-kadet calon perwira.
Tidak dinyana,
anak telengas yang sudah sama sekali dewasa,
atau Chairil namanya,
ada juga di sana!
Dan berdansa!
Lerigkap dengan celana flanel hitam, jas putih,
dan dasi kupu-kupu di lehernya!
Gagah sekali dia jadinya,
dan sang partner berdansa adalah seorang
gadis berdarah Belanda yang tidak kalah
cantiknya!

Namun betapapun santai dan syahdunya suasar
satu hal yang kentara tak dapat dihapus
pada mata dan wajah anak yang sudah dewasa ini
adalah bahwa itu mata atau wajah anak yang
terus gelisah.

Musik belum berhenti
ketika anak yang sudah dewasa itu menarik Corrie,
sang partner, ke luar.

Di pinggir pohon palem yang rindang,
dikecupnya Corrie berulang kali
sambil tetap tak dapat menyembunyikan
gelisah hatinya.
Hal mana membuat Corrie jadi bertanya :
"Ada apa? Bukan dansa belum lagi
usai?"
Dan Chairil menjawab sekenanya:
"Ibu sendirian di rumah!"

Dengan itu ditinggalkannya sang gadis, membuat
yang terakhir ini jadi bertanya-tanya sendiri.

26. Jam dinding berdentang satu kali.
Ibu yang sendiri terbangun dari tidurnya,
dan menemukan tempat tidur anaknya
masih kosong.

Ibu jadi mengambil selendang hangat
dan menutupi punggungnya.
Dengan itu dia lantas jalan ke luar rumah,
duduk termangu di depan
menanti anaknya.

 Ibu sudah terlena di luar,
ketika pulanglah dia si anak hilang.
Chairil membangunkan ibunya
dan membimbingnya masuk.

Chairil memasuki kamar,
sesudah menidurkan kembali ibunya.
Sebuah kamar sempit yang dipenuhi buku
di atas meja, di lemari, di atas kasur,
di mana-mana!
Dibukanya segera jas dan dasinya,
sesudah itu anak ini tenggelam dalam membaca,
sampai fajar tiba!

Ketika kemudian suara adzan terdengar
dan Ibu selesai mengambil "subuh",
ibu ini bahkan masih mendengar
anaknya membacakan sebuah sajak kepunyaan
Marsmann dalam bahasa Jerman yang sangat asing.
Namun menyentuh juga bunyi yang asing itu
di telinganya.
Semacam sajak yang penuh derita,
yang bercerita tentang maut dan kematian yang
sunyi.

Sang anak terkejut melihat Ibu
berdiri depan pintu kamarnya.
Ibu yang terus maju menggapai kepalanya
dan mengkais-kais rambutnya.
Ibu yang lantas juga bicara:
"Ayahmu sudah enam bulan tidak
mengirim belanja untuk kita...!"

Betapa tiba-tiba wajah sang anak menjadi berubah.
Mata yang memang selalu merah itu,
betapa menjadi bertambah merah.
Bibir itu juga gemetar seperti mengucapkan sesuatu
yang tidak jelas, tapi penuh kegeraman.

Diraihnya tangan Ibu yang berada di kepalanya,
dikecup, dipeluknya tangan itu,
tapi dia lantas berkata dengan ringannya:

"Ibu masih membekal perhiasan-perhiasan.
Ibu tidak memerlukan itu semua kini.
Jual!"

Maka Ibu nampak jadi menahan sesuatu yang
sangat pedih, dan berkata lag i:
"Sudah terjual semuanya, Nak....
Untuk sewa rumah,
untuk makan,
untuk bayar sekolahmu,
buku-bukumu,
juga dansa-dansa dan kesenangan-
kesenanganmu...
selama ini!"

Sang anak jadi termangu sekarang,
sambil membantingkan buku di tangannya
ke atas meja...

Yang meledak di pantai adalah sebuah bom!
Sesudah itu disusul pendaratan balatentara
Dai Nippon ke Indonesia.
Maka mulailah periode masa pendudukan Jepang
di tanah air



Maka dia sekarang sudah bukan anak lagi,
bukan remaja, juga bukan dewasa.
Dia adalah l e l a k I !

"Bukan main ! Kau pasti senang
mendengarkan yang ini.
Omong kitanya kira-kira begini,
dengarkan Siti :
'Kawan, jika usia kelak meloncer kita sampai habis-habisan,
jika tubuh seluruh, pehong lagi bengkok,
hanya encok tinggal memntu kemudi,
menyerah: Sampai sini sajalah...!'"
"Idih, joroknya!" Marsiti tertawa.
"Terus, kok pake ada pehong segala,
encok, dibawa-bawa sih? Memangnya
boleh syair ngomong yang begituan?"

Lelaki jadi tersenyum simpul memandang Marsiti.
Tapi dia terus mengambi! buku lain dan mulai
membaca lagi
sambil katanya:
"Baik, baik! Aku pilihkan yang ini,
barangkali kau akan jadi senang.
Yang ini tidak pake 'encok' atau 'yang
jorok-jorok' itu.
Nah, dengar:
'Dara, dara yang sendiri
berani mengembara
mencari di pantai senja.
Dara, ayo pulang saja, Dara!'"

Marsiti toh masih menyela, katanya bertanya:
"Lho, pulang ke mana?"

Lelaki tidak peduli.

Dengan isyarat tangan dia meminta Marsiti
berdiam diri,
dan dia terus membaca:

"'Tidak, aku tidak mau!
Biar angin malam menderu
Menyapu pasir, menyapu gelombang
Dan sejenakpula harus menyisir rambutku
Aku mengembara sampai menemu.

Dara, rambutkii lepas terurai
Apa yang kau cari,
Di laut dingin di asing pantai,
Dara, pulang! Pulang!'"


Leiaki menutup buku memandang Marsiti,
seolah mau mengetahui persepsi
perempuan jelata ini.
Marsiti tersipu, seperti anak perawan yang
mendapat puji. Marsiti merasa, sajak itu seolah ditujukan
kepadanya.
Maka dia menjadi genit dan memanja.
Sang lelaki lantas kembali tanya:

"Bagaimana, syair yang bagus bukan?"

Marsiti masih memanja:
"Yang ini bagus sekali. Kedengarannya
enak. Tapi Siti bukan dara lagi, 'kan, Bang.
Abang tau, Siti diketawain anak-anak di
sini, waktu bilang, Abang seorang tukang
sa'ir! Mereka tanya: 'Apaan itu tukang sa'ir?
Namanya siapa dia? Bapaknya siapa? Siapa
sih nama Abang? Boleh tau, 'kan?"

Dan lelaki itu seenaknya menjawab:

"Boleh! Namaku... AKU!"
"Aku? Kok 'Aku', sih? Terus nama
bapaknya siapa?"
"Atang!"
"Lho, si Atang yang tinggal di Kalipasir itu?"
"Ah, bukan, dia tinggal di Medan!"
"Jadi lengkapnya nama itu,
'Aku... bin... Atang'!"

Marsiti jadi pelan-pelan mengulanginya:

"Aku bin Atang"?

Marsiti tertawa. Terlalu sekali tertawa ini, sambil
dia memegangi
perutnya yang terbuka dan mulai berkilat karena
gendutnya.
Lelaki mengusap perut itu dan terlena di atasnya.
Read More