10 Puisi Kenangan Abadi

10 Puisi Kenangan Abadi

 10 Puisi Kenangan Abadi - puisi ini menjelaskan tentang kenangan kenangan manis pahit indah dan mengharukan sedih dan menyenangkan, kenangan perang, kenangan cinta, kenangan damai, kenangan alam dan lain sebagainya , jika di telusuri hidup itu sepertinya memang harus perang untuk mendapatkan cinta kemudian menemukan perdamaian, selanjutnya menikmati alam dan berakhir tinggal kenangan setelah kita tua tak berdaya kemudian mati meninggalkan dunia.

Memegang
Memegang, memegang senja, buah appel dan tugu,
Memegang bayangan, dinding dan ujung jalan itu,

Memegang kaki, kuduk putih perempuan yang lena,
Lalu membuka tangan. Beberapa ekor burung merdeka,

Beberapa ekor burung penyap menjadi dinding,
Tugu, senja, buah appel dan bayang-bayang.

Tangan kau bakal aus
Dalam permainan sungguh ini.
Kami ‘kan kudung kamu,
Kudung kamu suatu hari

Memegang bila segala meluputku
Dan dengan tangan bagaimana
Memegang pikiran ini
Dan dengan tangan bagaimana
Memegang hari pada bulu tengkuknya
Memegangnya gemetarran
Bagai seekor kelinci hidup?
Mari, tidur, tolong daku,
Kau akan pegangkan daku
Yang tak dapat ku ambil,
Kantuk tangan lebih berkuasa.
By: JULES SUPER VIELLE

Perjalanan sukar
Di jalan: kereta kecil sebuah,
Dalamnya: bocah mungil seorang,
Yang tak mau mengelaikan kepala,
Kerna kereta terguncang-guncang.

Paksaan keras ini jalan
Mencambut pasangan di kejauhan,
Di mana bumi sekedar gumpalan,
Di laangit besar yang kabur nian.

Jangan bilang: inilah tempat,
Di mana mentari di pancung nyalanya.
Dua belas tukang potong berderet,
Dua belas pisau potong tertawa.

Di sini orang memancung bulan
Agar kuningnya terkejut pasi.
Lantai tonilnya ialah landasan.
Tempat menempa petir dan ngeri.

,,ayuh buyung, tutup mukamu,
Kau menempuh jalan bahaya”
,,tidakkah Nampak olehmu, tamu,
Pasangan daku berpantang kalah?”

Bocah-bocah diplanit lainnya
Jangan kau lupa anak ini,
Yang telah sekian lamanya
Tak terdengar kabarnya lagi.
By: JULES SUPER VIELLE

Munafik
Bagai badai kesak ku kitari usia mudamu.
Nafsuku memancarkan kemilau di langitmu.
Pandangku, walau hinggap-hinggap melintas,
Tak luput dari wajah kebenaran yang menusuk.

Dengan langkah ati-ati, pandang tukang tunjuk,
Ajaran zaman agar berkhianat dengan mata,
Mahir dalam ikhwal yang teradat oleh waktu,
Aku melirik sekitar mangsa yang alpa.
By: FRANCOIS MAURIAC

Sanjak kabur
Ke man hujan disambar bayu,
Berdesau lalu di atas atap?
Akupun lalu padamu mendekap,
Agar senyap rintih sedihku.

Taman gelita berpohon t’lanjang,
Lampu kecilmu padam dan nyala,
Bisikmu gairah dewi asmara,
Bagaimana jadinya sekarang?

Masih ku dengar rintikan hujan.
Bunyinya lain kedengaran…..
By: FRANCIS CARGO

Kami tak mau sedih-sedih
Kami tak mau sedih-sedih
Itu terlalu mudah
Terlalu bodoh
Gampang saja.
Untuk itu terlalu banyak kesempatan
Salah tak ada
Setiap orang sedih
Kami tak mau sedih lagi
By: BLAISE CENDRARS

Tariku
Plato tak memberi penyair hak warga-kota
Yahudi kelana
Don juan metafisik
Teman-teman,orang-orang setangga
Kamu tidak lagi beradat dan belum punya istiadat
Perlu menghindari tindasan reveu-reveu
Kesusasteraan
Hidup miskin
Kesombongan yang pincang
Kedok
Perempuan, dansa yang diajarkan oleh Niezsche kepada kita untuk ditarikan
By: BLAISE CENDRARS

Perempuan
Tapi sendirian?
Datang dan pergi tak berhenti
Pembangsatan istimewa
Semua lelaki, semua negri
Demikian maka kau tak lagi memberatkan
Kau telah membunuh perasanmu

Aku seorang tuan yang dalam ekspres yang mengagumkan melintasi keinian
Eropah sendiri dan dengan hati kecut mengamati lintas jendela

Tamasya yang tak lagi menarik perhatianku
Tapi tarian tamasya
Tamasya tari
Paritatitata
Aku putar habis
By: BLAISE CENDRARS

Lagu berirama bebas
Diambang akan terjun kebawah gelombang tidur,
Amat bimbang nampaknya kamu;
Mungkin karma takut aku akan menyusul,
Mendekap dikau dalam mimpimu.

Usah takut, karena takut bedalah peluknya
Sekitar kepala aku berat,
Dan tidur ngingau menggundah dikau, di pojok remaja,
Bersama teman yang telah tiada.

Selagi kamu tamasya di hutan-hutan, padang, lembah temak,
Dijalan-jalanyang kucintai,
Dilingkungi tidur yang nyenyak, di mana kau sembunyi,
Aku tak’] ‘kan kunjung bergerak.
Wahai, semoga sanggup aku masuk mimpimu
Dan bermungkin dalamnya.
Tapi, menyingsing fajar – dalam mencari, kamu
Harus dicurahi nyala.
By: JEAN COCTEU

Nukilan dari: potomak
Potomak! potomakku! Sebentar kujumpai kau lagi.
Lihatlah! Satu sama lain kita pisah, bagai air ringan dan air berat
Maafkan daku menamakan kau potomak.
,,pergilah, burung” firman tuhan pada hari keempat dan dalam basa ibrani ditambahnya;frrrrr !

Tahu-tahu kuperoleh nama yang kadar cocok bagimu.
Dikit demi dikit kusimpulkan suatu dunia dari padamu.
Wajiblah aku nanti melewat, bekerja, tidur.
Potomak, kusesalkan aquarium di lapangan Madeleine
Tapi kau kukunjungi nanti.
By: JEAN COCTEU


Dimana aku bakal menetap
Punya padang mesra
Dimana panasmu istirah

Mata-air dimana dadaku
Mencerminkan hari
Jalan-jalan dimana bibirmu
Tersenyum kebibir lain
Hutan dimana unggas-unggas
Pelan mengangkat pelupuk matamu
Di bawah suatu langit, yang dibayangkan
Oleh dahimu cuaca

Satu-satunya alamku semesta
Kurnia yang mudah dilaraskan
Kepada irama alam –
Kau akan tetap telanjang saja.
By: PAUL ELUARD


Kekasih . . . . . . . . . . .
Agar dapat melukiskan assratku, kekasihku,
Taruh bibirmu seprti bintang di langit kata-katamu
Ciuman dalam malam yang hidup,
Dan deras lenganmu memluk daku,

Seperti suatu nyala bertanda kemenangan
Mimpikupun berada dalam
Benderang dan abadi,

Dan bila kau tiada disana,
Aku bermimpi tertidur, dan mimpi aku bermimpi.
By: PAUL ELUARD
Read More
10 Puisi Pesta Dan Hiburan

10 Puisi Pesta Dan Hiburan

 10 Puisi Pesta Dan Hiburan - Sebenarnya puisi ini lebih cocok di berikan topik puisi kritik sosial buka puisi hiburan, tapi karena untuk melengkapi topik puisi perang , maka tidak ada salahnya puisi ini saya beri puisi hiburan sebagai pelengkap terjadinya transisi kehidupan umat manusia yang jika di urutkan hasilnya adalah sebagai berikut .
1. Puisi Perang
2. Puisi Cinta
3. Puisi Perdamaian
4. Puisi Alam Dan Lingkungan
5. Puisi Hiburan
Tiba saatnya kita membahas puisi hiburan yang ada di bawah ini :

Pesta lapar
Laparkun, Anne, Anne
Lari di atas keledaimu.

jika aku lapar, hanyalah
lapar bumi dan lapar batu.
Ding! ding! ding! ding! Santapan kita angin
Batu dan arang besi.

Hai lapar, balik kau. Lapar, makanlah
rumput padang suara!
Hiruplah racun pesta gila
Dari daun semk;

Makanlah batu leburan tangan si miskin
Pintu gerbang gereja tua.
Puntung hari kiamat,
Roti lembab kelabu!

laparku, sobekkan angin malam,
Udara bergema;
itulah perutku, guruh itu,
O, Malam.

Tanam-tanaman di bumi lahir kembali;
Mentari buah magang
Kupetik dari lobang jejak Sayur dan bunga viola.

Laparku, Anne, Anne
Lari di atas keledaimu.
By: ARTHUR RIMBAU

Bulan kuning
Siang panjang itu berakhir dengan satu bulan kuning
Yang pelahan bangkit di antara pepohonan,
Sementara di udara menyerbak dan berkembang:
Bau air yang antara pimping basah bertiduran,

Insaflah kita, bila, dua-dua, di bawah Surya memanggang
kita siksa tanah merah dan tunggul jerami yang memberkah,
Tahukah kita, bila kaki menginjak pasir gersang
Ia tinggalkan bekas langkah bagai langkahnya darah,

Tahukah kita, bila kasih menjulangkan nyalanya
Di hati kita yang recai dengan siksa putus asa,
Tahukah kita, bila padam api yang membakar kita,
Bahwa nanti baranya mesra berada di senja kita,

Dan bahwa hari getir dekat silamnya, diserbak rangsang,
Bau air yang termenung d’antara pimping basah,
Nanti pelahan berakhir dengan itu bulan kunig
Yang diantaara pohonan meningkat jadi purnama?
By: HENRI DE REGNIER

Nukilan dari: pertemuan
Sambutlah, kesilauan mesra
Kebangunanku ini
Walaupun aku jauh
Dari pada hidup kebatinan

Tapi o, udara terang,
Aku cinta kesucianmu tiada ternoda
Tiada pernah aku mencari dengan tiada mengeluh
Suatu tempatpun untuk tertinggal

Sebab tiada tempat di mana kesenangan
Lebih tegas adanya ku tahu
Mendengar engkau adalah menerima
Ambillah dan minumlah, keinginanku,
Regulah langit di atas dunia.

Kalau engkau tidak bertahan di dalamnya, janganlah engkau mencoba mencapai tingkat kegirangan ini

Pagi ini aku seperti orang yang dengan pena terlalu banyak
Tintanya takut menodai kertas, lalu mengerang bunga dari pada perkataan
By: HENRI DE REGNIER


Langkah-langkah
Langkahmu, kanak-kanak sepiku,
Kudus dan pelan di injaknya,
Menuju ranjang waspadaku,
Bisu dan Kelu dimajukan.

Makhluk murni, bayangan luhur,
Lembut nian langkahmu-teguh!
Tuhan. . . semua berkah kutaksir,
T'lanjang kaki datang padaku.

Jika dari bibirmu m'lunjung,
kausiapkan, sebagai pengaman,
Bagi penghuni serba pikirku.
Sari hidup suatu ciuman,

Jangan gegaskan 'tu tindak mesra,
Gairah jumpaan diri-takdiri
Kerna hidupku: tunggu-kau cuma.
Dan itu langkahmu: hatiku ini.
By: PAUL VALERY

Hutan yang akrab
Kami berdampingan memikirkan
Ikhwal serba murni, sepanjang jalan.
Kami berpegang-pegangan tangan,
Bisu . . .antara bungaan hutan.

Kami berjalan: suatu pasangan,
Terpencil di malam hijau padang-padang.
Kami bagi buahan alam dongeng,
bulanpun mengakrab kegila-gilaan.

Lalu kami bergeletak di mulut,
Jauh, Kendiri, dibayang lembut
Itu hutan yang komat-kamit dan akrab.

Dan nun di luhur, dalam bendrang cahaya,
Nampaklah diri berurai airmata,
Wahai teman sepiku yang akrab.

Sanjak
Suatu jerit menembus sebukit tumpukan perih
Langkah pertama kepada Tuhan
Tahunan daku peperangan bangsa-bangsa
Rebut tahunanku gaduh mesin terbang
Tahunan kenanganku gemerincing ragam senjata
Dan setiap orang putera pegunungan
Tahunanku menyimpan bekas-bekas larsmu
Kenangan hitam pekat yang melintasi guhaku
, . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Semoga babel mengangkat daku jadi murid
Asmara itu semua berantakan
Mereka dari sini mencapai puncak
Di mana ssekian pohonan berumbaikan pecuk
Kukatakan pada hewan kau boleh mampus
By: MAX JACOB

Jembatan mereabeau
di bawah jembatan merebeau mengalir seine
dan kasih kita
selamanya harus tinggal di sana
kenangan girang di susul duka.
Walau malam pasti datang dan jam luput berdetak
Hari-hari cepat silam, aku tidak.

Tangan menjabat tangan dan berhadapan kami berdiri
Sementara di bawah
Jembatan tangan kami, buru memburu:
Ombak-ombak pandangan abadi yang gitu jemu.
Walau malam pasti datang dan jam luput berdetak
Hari-hari cepat silam, aku tidak.

Kasih bagai gegas air mengalir ini.
Kasih juga mengalir.
Hidup betapa juga tenangnya,
Harapan menyiksa betapa juga hebatnya,
Walau malam pasti datang dan jam luput berdetak.
Hari-hari cepat silam, aku tidak.

Liwat hari-hari dan lampu minggu-minggu
Dan waktu yang luput
Tiada kasih dulu kembali lagi.
Di bawah jembatan merabeau mengalir seine.
By: GUILLAUME APOLLINAIRE

Terompot peburu
Sejarah kita mulya-mengharukan
Bagai kedok seorang tiram,
Drama manapun, gaib atau nasib-nasiban,
Tanjaknya remeh sekalipun
Tak sanggup menjulangkan kasih kita!
Dan Thomas de quincey memadat,
Menghisab racun lembut dan murni
Pada Annanya malam mimpi bertandang,
Mari, mari pergi kerna semua berlalu,
Aku kan kerap berpaling.
Tanda mata bagai terompet peburu,
Buminya luput di puput angin.
By: GUILLAUME APOLLINAIRE

Marie
Engkau menari gadis kecil
Tarian nenek kau tarikkan
Lompat-m’lompat terompah kecil
Dan semua lonceng klenengan
Pabila kembali kau marie?

Kedok dan topong pada bisu
Dan musik demikian jauh
Seakan sumbernya diluhur
Ya, ‘kumau mencintaasal dendamnya rindu
Sehingga nikmat perihku

Domba-domba mengharung salju
Gumpalan bulu dan perak
Serdadu liwat, dan milikku
Apa hanya itu hati tak
Tetap, lantas apa ‘ku tahu

Ku tahu rambutmu kemana
Yang kerutnya laut membuih
‘ku tahu rambutmu kemana
Dan tanganmu daunan lesi
Yang pun menutup jamji kita

Minggir-minggir seine jalanku
Sebuah buku tua di tangan
‘ni suungai lukisan sedihku
Mengalir . . . . . . terus-terusan
Kapankah berakhir ‘ni minggu
By: GUILLAUME APOLLINAIRE

Sanjak penghabisan
Tahulah memaafkan bila kami kau banding
Dengan mereka yang jadi tauladan peraturan.
sKami yang dimana-mana menerjuni main nasib-nasiban,
Kami bukan musuh kamu.
Kami bukan beri kamu kerajaan luas dan ajaib,
Di mana kegaiban bemerkahan, menawarkan diri untuk dipetik.

Di sana gemerlap nyala-nyala baru: warna-warna yang haram pernah di sapu mata.
Jutaan khayal tidak bersosok,
Yang harus di ikat jadi kenyataan.
Kami mau sidik keindahan, daerah luas penuh sunyi-senyap
Adapula musimnya orang berburu dan kembali dari berburu.

Kasihani kami yang selalu berjuang di garis depan
Tak terbatas dan nanti yang tiada batasnya.
Belasi langkah kami yang salah, ampuni dosa kami.
By: GUILLAUME APOLLINAIRE
Read More
10 Puisi Alam Dan Lingkungan

10 Puisi Alam Dan Lingkungan

 10 puisi Tentang Alam Dan Lingkungan - masih berhubungan dengan puisi perang rusia , puisi cinta dan perdamaian , jika puisi perang membahas tentang jiwa patriot, puisi cinta membahas tentang kasih sayang , puisi perdamaian membahas tentang adanya kebersamaan dalam satu perbedaan, puisi alam lebih mengarah untuk memanfaatkan perdamaian guna melestarikan alam dan lingkungan. berikut ini puisinya .

Lagu
Kukatakan pada hatiku, pada hatiku lemah:
Belum padakah kiranya sekedar mecinta kekasih?
Dan tak jelaskah bagimu: silih-ganti tak berhenti,
Maknanya: melebur-dalam-mendamba zaman bahagia?

Diberinya aku jawaban: belumlah lagi memadahi,
Belum lagi memadahi sekedar mencinta kekasih;
Dan tak jelaskah bagimu: silih-ganti tak berhenti,
Memestakan dikenanan kesenangan dulu kembali?

Kukatakan pada hatiku, pada hatiku lemah:
Belum padakah kiranya sekian tusukan sedih?
Dan tak jelaskah bagimu: silih-ganti tak berhenti,
Maknanya: merasakan sayat pilu ditiup ayun langkah?

Diberikan aku jawaban: belumlah lagi mewadahi,
Belum lagi memadahi: sekian tusukan sedih;
Dan tak jelaskah lagi bagimu:silih-ganti tak berhenti,
Memesrakan dikenangan kesedihan lampau kembali?
(1831)
By: ALFRED DE MUSSET

Sedih
Telah penyap tenaga dan hidupku.
Kawan-kawanku serta gembira:
Pun sombongku punah semua,
Itu sebab ‘ku yakin bakatku

Waktu mulai kenal kebenaran,
Sangkaku ia itu teman
Demi kumaklumi serta insafkan,
Aku lantas menjadi bosan.

Betapapun juga: ia itu abadi,
Dan mereka yang terhadapnya abai,
Menyiakan semua di sini.
Firman Tuhan, agar taat padaNya.
Yang bagiku terbaik lagi di dunia,
Ya, merattapinya kadang kali.
By: ALFRED DE MUSSET

Persamaan
Alam adalah kuil dimana pilar-pilarnya berjiwa
Kadang-kadang menggaungkan gebalau kata-kata;
Insane lalu di sana lintas rimba lambing dan tanda,
Yang menyuguhinya pandangan bagai seorang saudara.

Bagai gema-gema panjang yang berhimpun di kejauhan
Dalam suatu pumpunan yang dalam dan gelita,
Luas seperti malam dan laksana siang megahnya,
Aneka wangi, warna dan bunyi lalu berjaawab-jawaban.

Ada bauan ssegar, bagai daging kanak-kanak menghawa.
Manis bagai seruling, hijau seperti padang-padang
-dan juga si kaya busuk dan serba megah,

Yang bagai hal-hal abadi, menyan dan cendana.
Bagai ambar dan kesturi di dalam kembang,
Yang menyanyikan gairah dari nafsu dan jiwa.
By: CHARLES BAUDELAIRE

Manusia dan Lautan
Manusia merdeka, lautan selalu dalam minatmu!
Laut itu cerminmu dank au renungi jiwamu
Dalam gulungan ombaknya yang abadi bertalu.
Dan bagai kuburnya sangsai, begitu jurang rohmu.

Kau senang menduga sampai ke dasar wajahmu.
Kaupeluk ia dengan pandang dan lengan, dan
Kadang hatimu bingung kerna kebuncahan
Sendiri, kala dengar berontak dan liar risau itu.

Kau dua-duanya ajaib dan penuh rahasia:
Tiada insane yang sanggup menyelami ruhmu:
O, laut tiada yang tahu itu harta dalam kandunganmu,
Demikian benar cemburumu menyimpan itu rasia

Betapapun sejak abat-abat, dilupa sudah kapannya.
Kau telah berjuang tak kenal belas walau sesalan.
Demikan benar kaucinta maut dan pembunuhan.
Wahai saudara-saudara, yang tak henti perjuangannya.
By: CHARLES BAUDELAIRE

Bocah kapal
Bocah kapal: Ayahmu kelasi, bukan . . ?
Nelayan telah lama tak tentu hilsng. . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Ia istirahat dalam berai gelombang . .

Ibu mengkhidmani dipandan pekuburan
Suatu kuburan-ya, kosong-
Kini kewajiban ayah di bumi kuteruskan
Mencari nafkah bagi dua orang

Kanak-kanak.-jadi, dipantai,
Tak satupun kembali dari si mati . . ?
-cangklok dan terompah kayunya . . .

Ibupun menangis, setiap minggu,
Pelipur lara . . tapi aku tak mau
Kalah: jadi kelasi-bila dewasa
By: TRISTAN CORBIERE

Sepoi laut
Jasad bersedih, sayang! Dan telah kubaca semua buku.
Lari! Lari turun! Kurasa burung-burung mabuk rindu
Hendak melayap di tengah buih ajai serta angkasa!
Tak satupun, o para malam, tidak taman-taman tua
Yang bercermin di mata, akan menghalangi ini kalbu
Kecimpung dalam lautan, tidak terang-sepi lampuku
Curah di kertas yang kosong yang dibela oleh putihnya,
Dan tidak wanita muda yang sedang nyusukan bayinya.
Aku ‘kan berangkat! O kapal yang membuaikan tiang
Dan temali, bongkar sauhmu dan harungi alam asing !
Sebangsa kesal yang di lesu oleh kejamnya harapan
Masih berpegang pada pamitan terakhir sapu tangan!
Dan mungkin tiang-tiang yang mengandung para badai
Adalah yang dicondongkan oleh angin ke atas sisa sangsai
Kapal karam tak bertiang atau berpulau subur kecil.
Tapi, wahai kalbuku, dengar olehmu nyanyian nelayan!
By: STEPANE MALLAREME

Lagu hujan
Rinai tangis dalam hatiku
Bagai rintik hujan di kota:
Apa gerangan makna lesu
Yang nyusup masuk kalbuku?

Wahai, lembutnya netes hujan
Merintiki tanah dan atap.
Wahai, begini nyanyian hujan
Bagi hati di ambing bosan!

Terhambur ratap tak tentu sebab
Dalam hati yang jijik diri.
Apa, tiada pengkhianatan?
Sesal ini tak tentu sebab.

Memang sungguh paling perihnya.
Bila tidak setahu kita,
Tidak mendendam atau bercinta.
Hatipun larut dalam derita.
By: PAUL VERLAINE

Lagu musim gugur
Rintihan sangsai
Biola damai
Di musim ugur,

Menyemai lesu
Hingga kalbuku
Bisu mengadu.

Setiap detik
Rasa mencekik
Memucat muka,

Aku terkenang
Massa yang hilang;
Gabaklah mata.

Kulepas kapal
Di angin sial:
Aku terbawa

Ke sini ke sana,
Tiada ubah:
Daunan tua
By: PAUL VERLAINE

Bulan putih
Bulan putih
Menyigi hutan
Terpecik rintih
Dir tiap dahan,
Jatuh mengeluh

Wahai kasihku!

Dan danau tenang,
-cermin dalam-

Ngilatkan baying
Sepohon hitam:
Angin tersedu

Impikan mimpimu . . .

Lega damai
Meluas mesra,
Bagai merintai
Dir murni cuaca;
Bintangpun kabur. . .

Saatnya luhur!
By: PAUL VERLAINE

Seruan kepada lautan
Aku bermaksud dengan tidak terharu, dengan suara keras mengucapkan sajak-
Sajak sungguh dan dingin, yang bakal kau dengar. Kau perhatikanlah apa isinya dan awaslah terhadap kesan yang mau tak mau membekas olehnya, sebagai suatu cacat dalam khayalmu yang kacau. Jangan percaya aku hampir mati, karena aku belum lagi suatu kerangka, dan usia tua belum lagi hinggap di keningku. Kareena itu kita sampingkanlah dahulu segala pikiran perbandingan dengan burung undan, pada saat jiwanya melayang, dan pandang didepanmu hanya sesuatu yang menakutkan, dan yang menyenangkan aku kerna kau tak sanggup melihat sosoknya, tapi ia tidak begitu menakutkan seperti jiwaku. Betapa pun aku bukan seorang penjahat. . . . . . cukuplah tentang hal itu. Belum selang beberapa lama aku melihat laut kembali dan menginjak jembatan kapal-kapal dan kenang-kenanganku seperti jika aku bangun tidur kemarin. Bagaimanapun, jika sanggup, hendaklah kau setenang aku dalam membaca bahan yang telah menyesal, aku menawarkan kepadamu, dan janganlah merah-muka kala memikirkan apa benar jantung manusia itu . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Samudra tua, kaulah lambang persamaan: selalu tak berubah pada batinmu. Kau tidaklah berubah-ubah pada hakikatmu, dan jika gelombang-gelombangmu meradang di satu tempat. Nun jauh jau di suatu daerah lain mereka adalah sempurna tenang. Kau tidak seperti manusia, yang berhenti di jalanan melihat dua ekor anjing tangkap-menangkap tengkuk, tapi tidak berhenti bila lalu kereta mati; yang pagi harinya tak dapat di dekati dan senjanya berjiwa guram; yang tertawa sekarang dan menangis beresok. Aku hormati kau, samudra tua!
Samudra tua, tak ka nada yang tak mungkin bagi yang kauasuh dalam pankuanmu mengenahi kebutuhan-kebutuhan nanti bagi manusia. Kau telah dirangkanya. Kau tidak biar mudah saja mata ilmu alam menangkap ribuan resia dari organisasimu mesra: engkau segan-segan. Manusia tak putusnya bergembar-gembor, ya, tentang hal-hal remeh. Hormatku padamu, samudra tua!


Lagu menara tertinggi
Semoga datang, ya datang
Masa yang penuh gairah
Kerna lama tersia
Kau lupa semua
Ngeri dan derita
Nun luput ke langit
Dan dahaga kotor
Menggelap darahku.

Semoga datangn ya datang
Masa yang penuh gairah
Bagai padang-padang yang
Binasa, ditinggal.
Menyebar dan berlipat
Kembang-kembang dan semak
Dalam marah dengung
Latar yang kotor.

Semoga datang, ya datang
Masa yang penuh gairah
By: ARTHUR RIMBAUD
Read More
10 Puisi Persaudaraan Perdamaian

10 Puisi Persaudaraan Perdamaian

 10 Puisi Persaudaraan Perdamaian - masih seputar puisi perang rusia, seperti yang sudah di sampaikan dalam pembukaan 10 puisi percintaan rusia yang melanjutkan puisi perang satu sampai dengan tiga kini berlanjut ke tema puisi perdamaian.

Tulisa di nison Villon
Saudaraku seummat yang hidup sesudah kami,
Jangan terhadap kami hatimu kau batukan,
Dapun, bila kau belasi kami yang malang ini,
Kaupun lantas saja di ampuni oleh Tuhan.
Kau lihat kami ini lima- 'nam orang bergantungan;
Daging kamin kerangka, menjadi tepung dan debu.
Kami yang malang ini janganlad tertawakan,
Tapi doakan: Tuhan mengampuni kami dan kamu.
By: FRANCOS VILLON

Nukilan dari: ,,Grand Testament" XVIII
,,Apa kaubuat," datang tanya tiba-tiba,
,,Sampai tersangka jadi pencuri di lautan?"
Yang ditanya buru-buru menjawab tanya:
,,Kenapa aku pencuri kaunamakan?
Karena aku membajak di lautan?
Dengan hanya sebuah kapal kecil dan lemah?
Aku kini pasti telah raja di lautan,
Andai aku bagai kau punya balantentara."
By: FRANCOS VILLON

Soneta buat Helena
Bila kau telah tua, duduk termenung di tepi senja,
Menyulam-nyulam dekat tungku dalam terang pelita,
Sen,dungkanlah sajakku dan takjubi kisah lama:
Akh, Ronsand memuja daku kala diri muda juwita.
Dapun, bila kau belasi kami yang malang ini,
Kaupun lantas saja di ampuni oleh Tuhan.
Kau lihat kami ini lima- 'nam orang bergantungan;
Daging kamin kerangka, menjadi tepung dan debu.
Kami yang malang ini janganlad tertawakan,
Tapi doakan: Tuhan mengampuni kami dan kamu.
By: FRANCOS VILLON

Soneta
Hidup-hidup aku mati: aku tenggelam dalam nyala.
Dalam panas membubus, aku menggigil kedinginan.
Bagiku hidup terlalu lemes, kadang kliwat kejam.
Kekesalan yang tak terkira seiring dengan gembira.

Selagi asyik ketawa, airmata pun cucurlah.
Kebaikanku larut, tenggelam masuk ke fanaan,
Aku menghijau dan layu seketika itu juga.

Demikian asmara sesuka hati memainkan daku.
Dan bila diri kuaangka di dalam cengkramab duka,
Di luar perhitungan, duka tah membebas daku.

Tapi bila taksiranku, langgeng adanya gembiraku,
Menjulang di laut nafsuku, bagai menara bercaya.
Maka pada duka semula ia hempaskan daku.
By: LOUISE LABBE

Beruang dan dua orang berteman
Dua orang berteman, lantaran perlu uang
mendapatkan seorang pedagang
untuk menjual kulit beruang
yang masih hidup tapi segera nyawanya akan dibuang

Dengan perjanjian bahwa dalam dua hari lamanya
kulit beruang ditukar uang
mereka pergi mencari itu binatang
yang baru namanya di dengar tapi belim dilihat buktinya.
Di sana mereka diam terpaku
melihat sang binatang berkuku.

Seorang naik ke atas pohan.
bersembunyi di atas daun:
Sedang kawannya gemetar
hatinya berdebar-debar,
lalu berbaring dengan punggung ke atas,
tidak bergerak menahan napas,
supaya pabila beruang menghampiri,
ia sangka sudah mati.

beruang yang besar itu pun melihat
lalu mencium badan yang lena seperti mayat,
tapi tak lama kemudian pergi lagi tanpa bersungut:
,,Biar aku pergi menjauhi ini bangkai berbahu isi perut!"

yang naik ke atas pohon
tergopoh-gopoh turun,
menghampiri kawannya
dan lantas bertanya:

,,Bagaimana dengan itu kulit?
Dan apa yang dibisikkannya
ketika ia mencium dan memijit
badanmu dengan kukunya?"

,,Dia berkata," jawab kawannya, menganjurkan:
Jangan kulit dijual sebelum beruangnya di binasakan."
By: JEAN DE LA FONTAINE

Keledai dalam kulit singa
Keledai yang di bungkus kulit singa
Pernah menakutkan orang dimana-mana
Dan meskipun binatang itu lunak,
Tapi disangka orang ia galak.

Tetapi ketika telinganya
Dengan tidak sengaja kelihatan muncul,
Tahulah orang yang sebenarnya,
Sehingga si Badarpun berani memukul-mukul.

Orang lain yang tidak membuktikan
Keadaan yang sebenarnya,
Tercengang kagum menyaksikan
Seorang petani memukul singa.

Demikianlah sering kejadian
Orang meributkan kebenaran
yang sebagian besar
hanya benar di luar.
By: JEAN DE LA FONTAINE

Nukilan dari: Sanjak penghabisan
Bagai sinar terakhir, bagai sepoi penghabisan
Yang melincah akhir hari yang permai,

Makin kucoba petik kecapi di kaku tiang gantungan;
Siapa tahu! Giliranku dating tak lama lagi.

Ya, siapa tahu! Sebelum jarum menit dalam lingkaran,
Yang tercantum di muka jam kemilau,

Menamatkan enampuluh kali detik insutan
Dengan sipongang klenengan bergalau,

Tidur abadi telah tutup kedua pelupuk mata,
Sebelum pada sanjak yang kugubah,

Aku mulai membunuh persanjangan akhir-akhir barisnya,
Maka antara dinding-dinding ngri, mungkin

Pembawa pesan dari maut, si Hitam pengerah baying-bayang,
Diiringkan dengan serdadu yang engkar

Telah menggemakan namaku di suram ruang panjang.
By: ANDRE CHENIER

Kembang mawar Saadi
Aku mau bawakan dikau kembang mawar itu pagi;
Tapi berlebihan kautaruh diembanku terkunci,
Hingga lantaran sendat, kancing tak tahan lagi:

Habis putus semua kancing. Mawarpun berberai
Diterbangkan angin; dan semua kelaut perginya.
Mereka ikut sama air untuk tidak kembali lagi.

Gelombang kelihatan merah, seakan api menyala,
Dan malam itu bajuku jadi wangi seluruhnya.`
Wahai, hiruplah padaku kenangan yang wangi.
By: MARCELINE DESBORDES-VALMORE

Nyanyian kabut
Akh, sekali-kali jangan hina wanita yang cela.
Siapa tahu beratnya beban meruntuhkan imannya lemah!
Siapa tahu selang berapa lama lapar ia derita?
Kala badai malapetaka mengguncang iman mereka,
Siapa antara kita tidak lihat wanita yang putus asa
Lama bersitahan, berperang sampai lenyai tangannya,
Seperti diujung dahan kita lihat tetesan hujan
Menggemilang,-- dimana langit tampil gemerlapan –
Dan demi pohhon diguncang, menggigil dan bertahan:
Mutiara sebelum jatuh dan lumpur setelah gugur!
Letak salah pada kita, pada kau, kaya, pada emasmu!
Betapapun tetap saja ada air murni di lumpur itu.
Karena tetesan air itu adalah uap asal-mulanya
Dan kemali mutiara lagi dengan cerlang aslinya,
Padalah semua demikian bangkit di waktu siang
Bersama sinar mentari atau bercaya kasih-sayang.
By: VICTOR HUGO

Suatu jalan teduh di Luxembourg
Ia melintas: gadis itu,
Lincah dan cepat, sepantun burung:
Di tangannya: kuntum kemilau,
Di mulutnya: deenddang berulang.

Mungkin itu sesatunya di bumi
Yang dengan hati ku berbalas gema;
Yang, di malamku pekat bersemi,
Dengan sekerdip mencipta cuaca.

Tapi tidak; -mudaku Lah silam.
Tinggalah, sinar lembut yang nyinari
Daku,-wangi, gadis, keselarasan
Bagia melintas,-. . . . ia pergi!
By: GERARD DE NERVAL

Bukan selamat siang, bukan selamat sore
Hari tak pagi lagi, pula belum senja
Betapapun meredup cahaya di mata kita.

Tetapi senja merah, dini hari laiknya,
Dan lama sudah itu malam membawa lupa!
By: GERARD DE NERVAL
Read More
10 Puisi Cinta Rusia

10 Puisi Cinta Rusia

 10 Puisi Cinta Rusia - Masih dalam satu topik dengan 10 puisi perang Rusia , di mana topik dalam puisi tersebut menjelaskan tentang jiwa patriotisme, sosial , perdamaian dan berlabuh pada puisi percintaan yang ada di bawah ini .

 Malam acacia
Hidup hanya punya dua tiga hari bercinta: lalu pohon gigih ini digantuni berates lebah dan bunga
Waktu malam bulan juni: jika acacia kembang dan layu
Sungai berdandan tasbih lampu-lampu dan mewangi karena perempuan-perempuan mandi
Jalan-jalan raya tiba-tiba melebar dan berikaluan sebagai salan-salon kecantikan
Titian bergantungan dan manic-manik cahaya melingkup air,
Dimana aku berlalu: taman gaib berantuk dengan pelancung;
Orang-orang pergi ketempat berjanji dengan kebun-kebun dan jalan-jalan, lapamgan-lapangan luas dan buleverda
Karena mabuk kepayang lupa aku pada lorong-lorong tua Nove Mesto
Yang dinding-dindingnya kelabu dan perkasa sekarang punya kedaulatan sebuah mahligai.
Wahai malam acacia, malam gunung dan kelembutan yang menggoda, jangan pergi,
Biarlah aku selamanya hauskan cinta dan kota Praha;
Wahai jika berakhir malam bulan juni, singkat seperti cinta dan kenikmatan tubuh.
Wahai malam acacia, jangan berlalu, sebelum kutiti semua jembatan Praha;
Tiada mencari siapapun, tidak kawan, tidak perempuan, tidak diriku sendiri;
Wahai malam yang punya jejak bakal tempuhan musim panas,
Tiada kunjung pada kerinduanku bernafas dalam rambutmu;
Permata-permatamu telah merasuki dagu, kuselami air sebagai seorang pemukat terkutuk:
Wahai dapat jugalah aku mengucapkan ,,sampai-lain-kali”
Wahai malam bulan juni,
Jika tiada sempat kita lagi berjumpa,
Hiruplah aku dalam pelukanmu, kekasihku yang malang.
By: VITEZLAV NEZVAL

Suatu nulilan
Lebih baik berbakti
Dari meminta maut untuk menyerah
Lebih baik berbakti
Dari meminta maut untuk menyerah
Biarpun tiada hentinya hati
Lancing mengajak dan mengarah

Baik menempuh derita
Biarpun tenaga hendak mengakhiri
Biar menempuh derita
Biar tenaga hendak mengakhiri
Daripada seorang dari mereka
Yang membusuk dalam kubur sendiri

Baik dalam perumahan kasih
Tertindas dan terhina
Baik dalam perumahan kasih
Tertindas dan terhina
Daripada malam kembang dan bersih
Dan tiada di petik oleh tangan manapun juga
By: VITEZLAV NEZVAL

Alangkah sepi mereka yang mati
Alangkah sepi mereka yang mati,
Kawan!
Di sini dimana orang mati sendiri.

Betapa suram mereka menjerat diri,
Pelahan,
Masuk hari penuh bencana.

Maut di sini kejam,
Kawan!
Dimana padang terlalu lapang,
Di mana langit tinggi, tinggi di luhur.

Di sini dimana kita sekelumit,
Begitu sengsara ditinggal
Di atas padang hitam
Di bawah langit,
Di mana yang satu menerjuni medan.
Yang lain diam di ambang pintu;
Dimana masuk rum,put dan padang
Jalanan lesu menuntun kita.
By: MILAN DEDINAC

Kordonu
di Kordonu di padang bata,
ibu mencari mayat anaknya.

Demi jumpa, d’atas kubur ia
Tuduk berkata pada anaknya.

O anakku, biji mata ibunda
Remajamu dulu kemana penyapnya?

Ayahmu menangis, ibumu meratap,
Semoga sudi kuburmu menyingkap,

Dan kubur tia-tiba terbuka,
Si anak bicara dengan bundanya:

Bundaku sayang, hentikan keluh,
Beban tangismu berat bagiku.

Ibu, pergilah, sudilah pulang,
Jangan kuburku ibu risaukan.

Ibu, sampaikan kepada rakyat
Supaya berjuang agar merdeka.
By: PENYAIR TAK DIKENAL

Pemuda pastisan Bosnia
Kami pemuda partisan Bosnia,
Kami cinta tanah air kami,

Kami suka rela Tito, membina
Kemerdekaan ibu pertiwi.

Hutan kami tempuh, senja di tangan,
Bedil: ibu kami, hutan: rumah kami,

Rentak tembakan tak pernah seindah
Yang dilepas pemuda partisan.

Indah dari nyanyi burung: swara miitrayur.
Kema pelur dilepas gadis-gadis kami,
By: PENYAIR TAK DIKENAL

I
Dua sajak
Angin-angin merdeka menyepoi sekitarku!
Jasadku bagai kecapi, dibiar terlantar
Canggung berdiri di tengah orkes meratap,
Perlahan menggigil,
Dilupa oleh payah dan sedih, oleh derita, oleh kemestian

Aku dengarkan gemanya perlahan:
Resonator alam semesta,
Jawaban resia, hampir tak kedengaran,
Wahai keajaiban kasih!
Pucuk poon tinggi
Terharu oleh nyanyian burung-burung.

II
Silam mentari masuk kekamar,
Seekor singa merah.
Bayangannya menimpa kaca
Dan kurasa cekamnya mesra
Menyentuh kakiku telanjang.
Sku membungkuk di bawah meja,
Yang di kudusi kerja hari itu,
Dan aku lihat ia, mentari itu, mencium kakiku
Dengan lidahnya merah.
By: PANTELIS PREVELAKIS

Panorama Laut Mati
Kita serupa Laut Mati
Sekian depa di bawah muka Laut Egea
Mari bersama daku, kutunjukkan dikau panormanya:

Di laut mati
Tiada ikan
Atau rengkam atau janik
Tiada hidup

Tiada makhluk
Yang berperut
Untuk lapar
Yang makan hati
Untuk menderita.

Di sini tempatnya tuan-tuan!
Di Laut Mati
Penghinaan
Bukan dagangan
Seseorang
Yang hiraukannya.

Hati dan piker
Mengeras dalam garam
Pahit itu
Mari kedunia
Mineral.

Di sini tempatnya, tuan-tuan!
Di Laut Mati
Lawan dan kawan
Anak dan isteri
Dan ibu-bapa
Mencari mereka;

Mereka di Gomorra
Di lubuk terdalam
Amat bagia
Kerna tak usah dengar
Berita.

Dan kini kita teruskan p’lawanan kita
Sekian depa di bawah muka Laut Egea.
By: GEORGES SEVERIL

Lagu Rumani
Tanganmu telah sentuh jendelaku
Di mana angin telah menyanyi, dan kamu
Mungkin memegang mentari di tangan.
Dapun jendelaku jadi merah-muda,
Meski di saat turun dan istirahatnya
Bayangan tengah malam dijalanan.

kudamu yang tiada tandingannya
Minum di sumur lama dan terkenanglah
Aku betapa kerap kudamu dahaga;
Adapun telingaku selalu bising
Oleh derak-derik sumur di padang
Dan kudamu yang memuaskan dahaga.

Dua pisau pada ikat pinggangmu
Bicara sesamanya; yakinlah aku
Mereka tahu rahasia nasibku,
Kerna mentari meredup matanya.
Dan jauh dalam sanubariku ada
Pisau-pisau panjang nyiksa jiwaku.
By: HELENE VAVARESCO

Lagu nafas
Dengan nafas ku hirup udara
Yang rasanya berasal Provenca
Segala di sana menggirang daku
Dan tiap kudengar cakapnya merdu
Akupun ketawa, dan lantas mohon
Tiap kata diulang seratus kali,
Gitu indah terdengar olehku.

Tak pernah didengar cakap gitu manis
Di antara deras arus Rhona dan Venca
Sedari segara hingga Durensa
Adapun tak ada pojok gitu ria
Seperti di antara anak Perancis,
Tumpangan angin sambil ketawa
Yang bikin si murung suka riang.
By: PIERE VIDAL

Read More